AirAsia Ditemukan

ATC Jakarta Kontak 8 Kali Selang 2 Menit AirAsia Minta Menyimpang 7 Mil

- detikNews
Rabu, 31 Des 2014 06:06 WIB
Jakarta -

Sebelum hilang, AirAsia QZ8501 sempat mengontak Air Traffic Control (ATC) Jakarta untuk menyimpang ke kiri 7 mil dan naik ke ketinggian 38 ribu kaki. Ada selisih waktu 2 menit sebelum ATC merespons permintaan pilot AirAsia dengan mengontak 8 kali untuk mengizinkan naik ketinggian.

Direktur Safety dan Standard AirNav Inddonesia Wisnu Darjono, mengatakan AirAsia meminta menyimpang ke kiri sejauh 7 mil dan naik ketinggian pada pukul 06.12 WIB. Saat itu juga, ATC langsung meresponsnya dengan mengizinkan AirAsia menyimpang ke kiri sejauh 7 mil. Untuk naik ketinggian, ATC meminta pilot mempertahankan ketinggian dulu pada level 32 ribu kaki.

"Roger, AirAsia QZ8501," demikian respons pilot AirAsia seperti disampaikan Wisnu kepada wartawan, Selasa (30/12/2014), pertanda konfirmasi arahan ATC.

Saat itu ATC melihat 7 pesawat melintas di sekitar AirAsia. ATC mengukur jarak aman dulu sebelum memutuskan memberikan izin AirAsia naik ketinggian.

"Selama 2 menit dari permintaan QZ8501, kita (ATC) mengukur jarak aman terlebih dahulu baru mengizinkan naik ketinggian," imbuh Wisnu.

Wisnu menjelaskan jarak aman untuk naik ketinggian yakni berjarak 10 mil dari pesawat lain. Serta, pada saat yang bersamaan, ada 3 pesawat lain yang terbang sejalur dengan Air Asia QZ8501 di jalur M-635 yakni Emirates 406, Air Asia 502, Air Asia 550.

"Berdasarkan radar yang kita miliki, rata-rata jarak aman kurang lebih 10 mil dengan pesawat lain, jarak aman supaya tidak menyenggol pesawat yang lain," terangnya.

"Terus setiap hari di jalur M635 ada sekitar 140 sampai 160 pesawat yang terbang," sambungnya.

Pukul 06.14 WIB, ATC mengontak pesawat AirAsia untuk mengizinkan naik ketinggian di 34 ribu kaki dari 32 ribu kaki. Namun, AirAsia tidak merespons. Hingga pukul 06.17 WIB, AirAsia hanya tampak sinyal ADS-B saja sampai pukul 06.18 WIB, AirAsia sama sekali hilang dari radar.

Sedangkan Plt Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Djoko Murjatmodjo mengatakan ATC Jakarta perlu berkoordinasi dengan ATC Singapura karena permintaan menyimpang dan naik ketinggian itu dilakukan di wilayah perbatasan operasional ATC Jakarta dan ATC Singapura.

"5 Minutes near boundary operation (dekat wilayah perbatasan operasi ATC Jakarta dan ATC Singapura-red). ATC itu tidak diizinkan untuk menaikkan atau menurunkan pesawat yang masih beroperasi di near boundary operation. Perlu juga izin dari ATC Singapura supaya bisa naik ke FL (Flight Level) 380 (38 ribu kaki) itu," jelas Djoko usai konferensi pers di Kementerian Perhubungan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (30/12/2014).

"Jadi, pilot diminta standby di level eksisting sambil tunggu koordinasi dengan ATS di sekitarnya. Ya, karena ATC perlu waktu untuk scanning terhadap pesawat di sekitar QZ8501," imbuhnya.

Setelah menunggu proses scanning itu, ATC mengontak AirAsia namun tak ada respons. "Delapan kali dikontak tapi enggak ada jawaban juga," katanya.

Tapi, karena lost contact, pihak ATC Jakarta melakukan upaya komunikasi dengan pesawat di sekitar lokasi agar bisa kontak dengan AirAsia QZ8501. Namun, upaya ini belum membuahkan hasil positif.

"Karena itu, sehingga pukul 07.08 WIB, ATC Jakarta menyatakan INCERFA (uncertainly phase/fase ketidakpastian-tahap pertama dari 3 tahap darurat dalam sistem transportasi-red). Kita pun menghubungi Basarnas untuk segera ditindaklanjuti. Tidak lama, kita secepatnya langsung berkomunikasi," jelas Djoko.

(nwk/jor)