"Jadi ada dua kemungkinan. Pertama alatnya rusak, rusak karena kecelakaan itu ya. Jadi tidak bunyi. Yang kedua, alat rusak sebelum atau ketika terbang. Bisa saja ELT-nya terlepas, lalu terbentur benda lain jadinya rusak. Ini pernah terjadi pada kasus Air France waktu itu, cuma saya lupa kapan," jelas Ketua KNKT Tatang Kurniadi.
Hal itu disampaikan Tatang saat ditemui di kantornya, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2014). KNKT juga belum mengetahui penyebab pasti mengapa ELT tidak memancar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditanya bila sinyal ELT tidak bisa dideteksi, apakah langsung akan mendeteksi ULB yang menempel di black box alias kotak hitam?
β"Sama saja. Nyari alat itu berarti harus cari black box-nya juga kan. Karena itu menempel di black box. Mungkin saja alatnya bunyi tapi terlalu dalam (tenggelamnya). Karena misalnya di atasnya ada kapal lewat jadi bunyinya tidak terdengar. Nyarinya kita juga pakai alat khusus yang bisa mendeteksi bunyinya. Tapi bisa juga ternyata sudah ditemukan alatnya, tapi lepas dari black box. Karena itu sangat penting cari lokasi jatuhnya pesawat dulu di mana," jelas Tatang.
Sedangkan untuk perkembangan hingga hari ini, KNKT sudah berkoordinasi dengan Basarnas untuk mencari posisi pesawat jatuh. Kemudian KNKT juga sudah memberikan notifikasi kepada negara terkait, seperti pihak pabrikan pesawat Airbus, untuk menambah informasi teknis tentang pesawat.
"Ketiga, kami berkordinasi dengan internasional soal bantuan dari RRC, USA, kemudian dari Filipina, Malaysia, Singapura, Korea, Australia siap membantu melakukan pencarian," tutur Tatang.
(nwk/mad)










































