Misi Berat Tim Gabungan Mencari Sinyal ELT Hingga ULB di Black Box

Misi Berat Tim Gabungan Mencari Sinyal ELT Hingga ULB di Black Box

- detikNews
Senin, 29 Des 2014 20:55 WIB
Misi Berat Tim Gabungan Mencari Sinyal ELT Hingga ULB di Black Box
Black box, ULB ada di bagian nomor 3 (Foto: Nograhany WK/detikcom)
Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menduga 2 kemungkinan Emergency Locator Transmitter (ELT) atau sinyal pemancar darurat tidak terdeteksi. Bila benar ELT itu rusak, maka masih ada Underwater Locator Beacon (ULB), alat pemancar sinyal darurat lain yang menempel di black box pesawat.

"Jadi ada dua kemungkinan. Pertama alatnya rusak, rusak karena kecelakaan itu ya. Jadi tidak bunyi. Yang kedua, alat rusak sebelum atau ketika terbang. Bisa saja ELT-nya terlepas, lalu terbentur benda lain jadinya rusak. Ini pernah terjadi pada kasus Air France waktu itu, cuma saya lupa kapan," jelas Ketua KNKT Tatang Kurniadi.

Hal itu disampaikan Tatang saat ditemui di kantornya, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2014). KNKT juga belum mengetahui penyebab pasti mengapa ELT tidak memancar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita masih mencari informasi sebanyak mungkin. Soal analisa, siapapun bisa analisa. Kita kan harus cari tahu kebenarannya," jelas dia.

Saat ditanya bila sinyal ELT tidak bisa dideteksi, apakah langsung akan mendeteksi ULB yang menempel di black box alias kotak hitam?

β€Ž"Sama saja. Nyari alat itu berarti harus cari black box-nya juga kan. Karena itu menempel di black box. Mungkin saja alatnya bunyi tapi terlalu dalam (tenggelamnya). Karena misalnya di atasnya ada kapal lewat jadi bunyinya tidak terdengar. Nyarinya kita juga pakai alat khusus yang bisa mendeteksi bunyinya. Tapi bisa juga ternyata sudah ditemukan alatnya, tapi lepas dari black box. Karena itu sangat penting cari lokasi jatuhnya pesawat dulu di mana," jelas Tatang.

Sedangkan untuk perkembangan hingga hari ini, KNKT sudah berkoordinasi dengan Basarnas untuk mencari posisi pesawat jatuh. Kemudian KNKT juga sudah memberikan notifikasi kepada negara terkait, seperti pihak pabrikan pesawat Airbus, untuk menambah informasi teknis tentang pesawat.

"Ketiga, kami berkordinasi dengan internasional soal bantuan dari RRC, USA, kemudian dari Filipina, Malaysia, Singapura, Korea, Australia siap membantu melakukan pencarian," tutur Tatang.

(nwk/mad)


Berita Terkait