Kolom
POR II
Rabu, 26 Jan 2005 01:59 WIB
Den Haag - Biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu. Saudara-saudara di Aceh melolong, Porwanas tetap melaju. Digonggong terbukti tak peka, mungkin sudah saatnya perlu digigit ramai-ramai.Awal tahun 2005 ini ada tontonan rendah sedang dipamerkan: nafsu sekelompok kecil anggota masyarakat yang ngebet ingin berpesta olahraga, sementara saudara-saudara di Aceh masih perlu perhatian pasca dihempas bencana. Lebih rendah lagi, pesta pora itu dibebankan kepada masyarakat Riau yang mayoritasnya hidup di bawah garis kemiskinan. Ini sebenarnya bukan sekadar perkara patut tidak patut, norma-nilai, tetapi lebih serius dari itu adalah soal kepekaan rasa sosial dan kemanusiaan yang waras. Sungguh tidak elok, diukur dengan parameter apapun, jika seseorang tetap ngotot menggelar lomba, padahal rumah tetangga sebelah roboh dan sebagian besar penghuninya tewas. Orang Belanda biasa menyebut orang seperti itu sebagai aso, potongan dari asociaal (antisosial).Ketika rapat bersama Dr. Sofyan dkk di ICCN Den Haag (membahas bantuan berkelanjutan untuk Aceh dan Sumut dengan target diplomat Timteng dan ratusan masjid di seluruh Belanda), seorang kawan nyeletuk: orang berlomba membantu Aceh, kok wartawan malah sibuk menyiapkan dan ngotot berporwanas-ria. Perlu diketahui, 'lomba' membantu Aceh di kalangan mahasiswa dan masyarakat RI di Belanda saat ini sudah memasuki gelombang III. Ribuan euro terkumpul melalui jaringan yang sudah established: Binaurrijal (bermitra dengan PKPU) dan KZIS (Isnet), belum lagi PPI dan ormas lainnya. Untuk 'lomba' ini, Kang Ery dari University of Technology Eindhoven, berpesan jangan lupa stamina. Maksudnya, sebagian gaji atau uang beasiswa perlu terus disisihkan untuk Aceh, sampai fase kritis terlewati. Mengapa para korban di Aceh masih perlu diperhatikan? Jawabnya karena mereka bukan kecoa, yang ketika telah jadi bangkai tamat selesai. Mereka adalah manusia, sama seperti kita. Satu saja meninggal, akan ada emosi yang tercaruk, sedih-duka bagi kerabatnya, perlu mourning process, masa berkabung. Apalagi yang meninggal di Aceh itu ribuan. Yang selamat juga tidak cukup dibantu sekotak dos mie penjinak lapar. Lihatlah, mereka sudah tidak punya apa-apa lagi. Semua hilang dan rata dengan tanah. Sungguh sangat aso jika ada orang yang berpesta pora dalam masa berkabung ini.Slogan 'Biarlah anjing menggonggong, kafilah berlalu' untuk tancap gas rencana Porwanas, makin memperjelas watak aso, bahkan aso multikompleks, sebab bukan hanya cuek terhadap derita saudara-saudara di Aceh, tidak peka pada gonggongan masyarakat ramai, tetapi masih ada yang lebih serius dari itu: dana untuk Porwanas ternyata diperoleh dengan mengambil hak masyarakat Riau melalui APBD senilai Rp 6 miliar.Jika benar pendanaan Porwanas dari APBD Riau itu Rp 6 miliar, maka masyarakat Riau -miskin dan kaya tanpa kecuali- dibebani paksa biaya penyelenggaraan sebesar Rp 1.500 per orang (dengan asumsi penduduk Riau 4 juta orang, data pemilih Pemilu 2004). Di sinilah titik aso multikompleks itu. Seandainya masyarakat Riau sadar pembebanan paksa ala kolonial Belanda ini, mereka pantas jika bangkit beramai-ramai, bukan untuk menggonggong karena terbukti tak mempan, melainkan menggigit.Penggunaan uang APBD Riau Rp 6 miliar untuk Porwanas itu juga sekurangnya telah merampas peluang dan hak masyarakat Riau untuk memperbaiki kesejahteraan. Bayangkan, secara matematis dana sebesar itu bisa untuk menolong 6.000 pedagang kecil Riau dengan pinjaman permodalan Rp 1 juta per orang. Bisa juga untuk menyekolahkan 1.666 anak Riau tingkat SMU untuk 3 tahun penuh dengan besar beasiswa Rp 100.000 per anak per bulan, atau untuk memberi beasiswa 5 tahun penuh kepada 200 mahasiswa Riau sebesar Rp 500.000 per bulan hingga tuntas menjadi sarjana.Alih-alih untuk mikir kesejahteraan atau kemajuan Riau, demi Porwanas dana Rp 6 miliar itu ludes untuk 3 hari, atau Rp 2 miliar per hari! Ludes, des... Sementara manfaatnya bagi masyarakat pembayar pajak di Riau apa? Seharusnya seluruh elemen republik ini, terutama masyarakat Riau, mencegah praktik aso ini. Kecuali, sekali lagi kecuali, masyarakat Riau telah jadi angsa lumpuh, yang sama sekali tidak berdaya ketika telur-telurnya diambil orang.Masih ada waktu untuk membatalkan Porwanas. Tengoklah catatan sejarah, betapa even-even besar pernah tidak dilangsungkan karena ada drama kemanusiaan. Tak perlu merasa kehilangan muka, sebab bagaimana mungkin bisa merasa kehilangan kalau selama ini memang sudah tidak punya?
(es/)











































