Sebelum Batas Waktu Habis, Militer Asing Harus Dioptimalkan
Selasa, 25 Jan 2005 23:50 WIB
Jakarta - Pemerintah harus mengoptimalkan bantuan peralatan dan relawan militer asing dalam penanganan bencana sebelum meninggalkan Aceh dan Sumut 26 Maret 2005. Jika peran aktif militer asing dapat dioptimalkan, maka untuk pelaksanaan rekontruksi dan rehabilitasi dapat berlangsung lebih baik."Sangat penting agar relawan militer asing bisa bekerja maksimal dalam rentang waktu yang ada," kata Ketua MPR Hidayat Nur Wahid usai pertemuannya dengan Presiden SBY di Kantor Presiden, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta Selatan, Selasa (25/1/2005).Rekomendasi tersebut merupakan aspirasi para pengungsi yang ia rekam dari sejumlah daerah terkena bencana. Selama empat hari, rombongan Ketua MPR menyusuri jalur darat Medan ke Banda Aceh, dengan mengambil rute Takengon, Meulaboh dan Lhok Seumawe.Berdasar pengakuan para pengungsi, ia menangkap kesan bahwa pemerintah hanya memanfaatkan bantuan personil militer asing sebatas untuk pendistribusian logistik bantuan. Padahal dengan dukungan peralatan tempur dan medis canggihnya, ada banyak hal yang bisa melakukan, seperti pencarian korban di daerah yang masih terisolir.Tidak heran manakala kondisi para pengungsi di Banda Aceh dan Meulaboh mulai dapat tertangani, ada relawan asing yang meminta ijin untuk kembali ke nagara asalnya. Seperti tim medis dari Kerajaan Jordania dan personil militer Singapura.Kenyataan ini sangat ironis, sebab pada saat yang sama masih ada daerah yang belum tersentuh operasi kemanusiaan karena terputusanya jalur transportasi jalan raya. Seperti Aceh Jaya, Calang dan Teunom."Bila potensi bantuan militer asing tidak segera dioptimalkan, saya khawatir apa yang dilakukan militers Singapura ini bisa terjadi pada tim lainnya," papar Hidayat.Selain masalah militer asing, dalam pertemuan tadi Hidayat juga menyampaikan aspirasi rakyat Aceh yang menyambut baik rencana pembentukan Badan Otorita Khusus Aceh untuk mengkoordinir kegiatan rekontruksi dan rehabilitasi."Bagi mereka yang penting badan itu diisi oleh orang-orang yang mempunyai track record yang bersih dan kepedulian yang tinggi membangun Aceh tanpa mengabaikan budaya setempat," ujarnya.
(fab/)











































