"Gus Dur itu sosok yang istimewa. Kesenangannya beliau roti tawar ditaburi mentega rangkap 2 dan dipotong diagonal," buka Priyo saat memulai cerita dalam Peringatan Haul 5 Tahun Gus Dur di Komplek Al-Munawaroh, Jalan Warung Silah 10, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (27/12/2014) malam.
Kala itu masih tersisa satu potong roti berisikan taburan gula di atas piring Gus Dur. Lama sekali tidak disentuh, membuat tangan Priyo tergoda untuk mengambilnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Begitu sudah habis, Bapak baru nanya 'lho roti saya mana?'," lanjut Priyo.
Mendengar itu, dirinya diselimuti rasa panik dan takut bukan main. Pikirannya kala itu sudah pasti dia akan dipecat jadi ajudan dan namanya akan sangat tercoreng lantaran mengambil roti milik presiden.
"Untung saya nggak dipecat gara-gara presiden marah rotinya diambil saya. Susah itu nanti nyari kerjanya mana ada orang yang mau menerima maling roti, rotinya roti (milik) presiden lagi," kenang Priyo.
"Gus Dur tidak ngomong apa-apa, Ya Allah saya takut vonisnya apa. Saya nunggu beliau makan roti lama sekali, saya sudah nggak tertarik sama rotinya lagi," sambungnya.
Lantas apakah Gus Dur marah?
"Gus Dur sangat pemaaf. Beliau tidak pernah marah," jawab Priyo.
Dia juga berbagi cerita lain saat Gus Dur hendak melakukan pemotretan Kepala Negara. Setelah sudah berapa kali jepret, rupanya hasil menunjukkan jas hitam yang dikenakan Gus Dur terlihat lusuh.
Alhasil, seluruh tim istana kocar-kacir mencari setrika. Lama sekali Gus Dur harus menunggu, tapi dirinya tidak memperlihatkan ekspresi kesal selama menunggu.
"Saat itu istana belum pernah ditinggali presiden, nyari setrika di istana bukan sepele. Presidennya untung nggak marah, santai saja tidak ada wajah jengkel sama sekali padahal lama nyari setrikanya," ceritanya.
Priyo yang juga pernah menjadi ajudan Presiden ke-2 Soeharto dan Presiden ke-3 BJ Habibie itu juga mengaku sempat ragu dengan sosok Gus Dur. 'Mampukah dia memimpin bangsa Indonesia?' batinnya kala pertama kali menyambut Gus Dur di Istana Merdeka.
"Ada laki-laki duduk di kursi belakang sebelah kiri pasti itu presiden, nggak mungkin bukan presiden. Memakai jas dan ekspresi wajahnya sedang bersiul. Saya bertanya-tanya ini presidennya? Saya lihat kakinya, lho presidennya nyeker (telanjang kaki)," ucap Priyo.
"Kemudian presiden turun dari mobil dibantu ajudan. Malam itu saya tidak bisa tidur, 230 juta rakyat Indonesia bagaimana dipimpin Gus Dur. Ketika waktu berjalan, saya malu waktu itu berpikir seperti itu. Mungkin Gus Dur anugerah terbesar yang pernah dimiliki Indonesia," sambungnya.
Priyo mengenang jasa-jasa Gus Dur yang sangat berarti bagi kehidupan bangsa, seperti menghapus larangan memeluk agama Konghuchu. Momentum lainnya yang paling diingat adalah saat salah satu pendiri PKB itu menciptakan cikal bakal kelahiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Dalam waktu 23 bulan beliau berani mengambil keputusan yang sangat monumental. Beliau mencoret Departemen Penerangan dan membebaskan penerbitan. Beliau juga menggilir Panglima TNI dan beliau mencabut larangan terhadap agama konghuchu. Itu paling monumental," ujar Priyo.
"Gus Dur waktu itu membentuk badan adhoc percepatan pemberantasan korupsi, di samping penyidikan dia juga bisa menuntut. Itu cikal bakal dari KPK," pungkasnya.
(aws/gah)











































