Zulfan Ariansyah adalah pegawai kantoran yang juga aktif sebagai travel blogger di detikTravel. Kegemarannya menulis tentang destinasi wisata di Aceh. Namun 10 tahun lalu, tidak terbayangkan sebuah peristiwa bencana bisa melanda kampung halamannya itu.
"Saya dulu masih kuliah di Universitas Syiah Kuala, lagi skripsi. Saya dan keluarga besar kebetulan nggak ada yang kena tsunami gara-gara ada undangan pernikahan keluarga," kata Zulfan berkisah pada detikcom, Rabu (24/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gempa itu kan pagi, kita sudah di Pidie. Terus kita dengar kabar Banda Aceh tenggelam. Kami pulang ke Banda Aceh hari itu juga," kata Zulfan.
Menjelang masuk ke kota, Zulfan melihat orang-orang mengungsi naik truk. Motor sampai berbonceng 4-5 orang. Wajah-wajah shock tergambar di raut muka mereka.
"Banda Aceh tenggelam ternyata benar... Rumah kami aman, nggak kena tsunami tapi rusak-rusak karena gempa," jelasnya.
Sementara kerabat yang lain tidak bisa pulang karena jalan menuju ke sana terhalang kayu-kayu yang terbawa tsunami. Zulfan dan keluarga berkeliling kota, melihat mayat bergelimpangan di mana-mana. Zulfan dan keluarga bertahan selama seminggu di Banda Aceh sebelum mengungsi ke Pidie karena mulai merebaknya wabah penyakit dari jenazah yang belum sempat dikubur.
10 Tahun berlalu, Aceh kini sudah bangkit kembali. Proses rekonstruksi membuat Aceh berangsur-angsur pulih. Karena Zulfan adalah seorang traveler aktif, sering berkeliling Aceh dan menulis artikel pariwisata di detikTravel, Zulfan mengatakan Aceh kini sudah ramai dengan wisatawan.
"Menurut saya alhamdulillah Aceh sudah mulai tampak pariwisatanya. Dari sejak monumen PLTD Apung dan Museum Tsunami dibuka, baru wisatawan datang lagi ke Aceh," pungkasnya.
(fay/mad)











































