Setelah Hampir Sebulan, Luka Itu Masih Ada
Selasa, 25 Jan 2005 12:10 WIB
Banda Aceh - Tengku Yahya (60) duduk di pertapakan meunasah (musala) di kampungnya yang kini sudah rata dengan tanah. Hanya lantai keramik berwarna putih yang menandakan bahwa di situlah letak meunasah kampung mereka, meunasah Desa Cadek Kecamatan Baitussalam, Banda Aceh. Sudah satu bulan bencana yang merenggut isteri, anak dan cucunya itu terjadi. Tapi rasa kehilangan itu belum sepenuhnya sembuh. Tangan kanannya memegang sabit dan parang. Tengku Yahya yang acap menjadi imam di meunasah itu baru usai mengais-ngais sisa-sisa rumahnya. Tapi, tak ada apa pun yang dapat dipungutnya dari sana. Hanya sehelai gordyn berwarna kuning gading -yang sudah penuh lumpur- dipegangnya. "Rumah saya yang itu, Bu. Yang ada tembok sedikit itu," katanya pada detikcom, Selasa (25/1/2004) sembari menunjuk bangunan yang hanya menyisakan sebuah tembok setinggi tidak lebih dari setengah meter dengan panjang sekitar 1 meter. Sambil berbicara, tangan kirinya memutar-mutar kain gordyn yang ada di tangannya. Wajahnya acap menunduk, seperti tak kuasa menatap kampungnya yang kini hanya terlihat seperti lapangan luas yang penuh puing-puing reruntuhan rumah. Tengku Yahya menuturkan, sewaktu gempa dan tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004 lalu, dirinya tengah berjualan sayur di pasar pagi Keutapang, Banda Aceh. Waktu orang-orang berteriak air laut naik, dia meninggalkan dagangannya untuk pulang ke rumahnya melihat keluarga. "Tapi saya tidak bisa melalui jalan biasa yang saya lalui. Karena di mana-mana air laut setinggi 1 meter. Akhirnya setelah berputar-putar, cari jalan, ke sana-kemari, akhirnya saya hanya bisa sampai di Darussalam, karena katanya kampung ini masih terendam air," ujarnya. Tangannya masih terus memutar-mutar kain gordyn di tangannya. Sesampai di Darussalam, dia melihat banyak orang yang mengungsi di masjid Darussalam. Tengku Yahya melihat beberapa orang kampungnya di sana. Harapannya timbul, mudah-mudahan menemukan keluarganya di antara ratusan orang yang ada di sana. "Tapi beberapa orang kampung bilang, sepertinya isteri saya tidak selamat. Langsung saja saya melihat barisan mayat yang ada di mesjid. Baru dua mayat saya lihat, saya sudah menemukan jenazah isteri saya. Siang itu juga kami kuburkan," kata dia. Sementara, dua anak dan dua orang cucunya yang juga jadi korban sampai kini tak juga ditemukan. "Saya kini bersama empat orang anak saya. Kami mengungsi di MIN Bung Cale," lanjutnya. Lama kemudian dia terdiam. Matanya memandang lurus ke laut yang kini terasa dekat dari tempat duduknya. Menurut dia, dulu jarak laut dari tempat dia duduk saat ini -yang hanya berjarak sekitar tiga meter dari jalan aspal menuju Pelabuhan Malahayati- sekitar 4 kilometer. Tapi sepertinya sekarang hanya berjarak sekitar 2 kilometer. Orang-orang kampungnya yang kini selamat bisa dihitung dengan jari. Dari sekitar 260 Kepala Keluarga, hanya 50 orang yang selamat. "Pak lurah kami, Keuchik Ayub juga tak tahu bagaimana nasibnya, tapi sepertinya sudah meninggal. Semua memang kehilangan. Inilah cobaan dari Allah." Meski sudah hampir satu bulan, Tengku Yahya mengaku belum mampu untuk memikirkan bagaimana nasibnya ke depan. Untuk berdagang kembali saat ini, dia mengaku belum siap. Apalagi uang yang didapatnya dari posko pengungsian hanya cukup untuk membeli keperluan sehari-sehari ala kadarnya. "Mudah-mudahan ada yang memberi modal nanti. Kalau tidak, bagaimana. Semua harta sudah tak ada lagi," kata dia. Matanya menerawang jauh ke laut lepas.
(asy/)











































