Salah satu peserta Kunker Komisi III, yakni Hasrul Azwar dari PPP menanggapi pemaparan kekurangan itu dengan sebuah harapan.
"Mungkin bapak-bapak pernah bertugas di Arab Saudi. Jangan sampai petugas imigrasi bandara kita seperti di Saudi," tutur Hasrul di lokasi, Senin (22/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya yakin kita nggak separah yang diperlihatkan petugas imigrasi di Saudi," tutur Hasrul.
Petugas imigrasi dinilainya membawa citra pelayanan Indonesia terhadap warga negara asing. Maka jangan sampai kejadian yang berkenan buruk bahkan menyebar di jejaring sosial seperti yang pernah terjadi terulang kembali.
Kepala Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta Sutrisno memaparkan sejumlah aspek yang menjadi permasalahan kantor imigrasinya. Pertama, jadwal kedatangan pesawat yang hampir bersamaan pada saat "peak hours'. Kedua, petugas bekerja lebih dari 8 jam (dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB dan shift selanjutnya).
"Kedatangan dan keberangkatan alat angkut per hari lebih kurang 204 pesawat," imbuh Sutrisno.
Kedatangan penumpang maupun keberangkatan perhari sekitar 40 ribu orang dari luar negeri. Petugas pendaratan juga dinilai kurang.Terakhir, sarana dan prasarna kurang memadai, tempat antrian sempit, banyaknya counter yang rusak, dan tempat istirahat pegawati yang tak memadai.
"Makanya kita rapat sama Menteri Perhubungan, Menteri BUMN, Komisi V, dan Komisi VI untuk membahas hal ini ke depan," kata Ketua Komisi III Aziz Syamsuddin.
Kantor imigrasi juga mengeluhkan soal ruang imigrasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang rencananya akan dibangun di Terminal III ultimate bila pembangunan telah selesai nantinya. Yang mereka keluhkan, rencana pembangunan 'space' imigrasi tidak dikomunikasikan dengan matang terlebih dahulu dengan pihak imigrasi, sehingga ruang yang didapat tidak terlalu luas layaknya bandara internasional lainnya.
"Kami menginginkan koordinasi dulu sebelum dibangun," kata Sutrisno.
(dnu/rvk)










































