Lima juru runding dari kubu Agung Laksono adalah Yorrys Raweyai, Priyo Budi Santoso, Agun Gunanjar, Andi Matalatta dan Ibnu Munzier. Sementara lima dari kubu Ical yakni; Aziz Syamsuddin, Theo Sambuaga, Fredi Latumahina, Mohammad Soleman Hidayat, dan Sjarief Cicip Sutardjo.
Satu hari menjelang penjajakan islah, kubu Agung Laksono mulai melunak. Kelompok yang menggelar Musyawarah Nasional di Ancol, Jakarta itu tak lagi ngotot mempertahankan lima opsi yang ditawarkan ke kubu Ical.
Menurut Sekretaris Jenderal versi Munas Jakarta Zainuddin Amali lima opsi itu bisa dirundingkan kembali. "Itu (lima opsi) yang dikompromikan. Bentuknya seperti apa ya kompromi dulu. Kami belum bisa gambarkan karena begitu duduk di meja perundingan segalanya bisa terjadi. Politik itu dinamis tidak statis," kata Zainuddin kepada wartawan di kantor DPP Golkar, jalan Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat, Senin (22/12/2014).
Wakil Ketua Umum Partai Golkar versi Munas Jakarta Priyo Budi Santoso menyebut dalam perundingan yang berlangsung besok harus dilakukan dengan saling mendengarkan, dan mencermati. Semua opsi yang akan diajukan harus menjadi pertimbangan kedua belah pihak.
"Jadi jangan semua dipasang harga mati ya susah tidak perlu juru runding kalau begitu (harga mati)," kata Priyo di tempat yang sama.
Menurut Priyo harga yang harus dibayar Golkar cukup mahal jika perundingan menuju islah gagal. Pasalnya jika opsi Munas dan pengadilan yang akan ditempuh bakal membutuhkan biaya yang tinggi. "Paling murah ya islah," kata dia.
(erd/try)











































