Bencana yang Selalu Terulang

Banjir di Jakarta (1)

Bencana yang Selalu Terulang

- detikNews
Selasa, 25 Jan 2005 10:23 WIB
Jakarta - Musim hujan kembali datang. Situasi ini hanya berarti satu bagi warga kota Jakarta. Mereka harus bersiap-siap menyambut datangnya tamu tahunan, banjir!Seminggu terakhir ini hujan kerap mengguyur kota Jakarta. Tak jarang tetesan air itu turun dari pagi hingga malam hari. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) meramalkan, pada bukan Januari ini memang akan terjadi peningkatan curah hujan.Bagi semua makhluk hidup air adalah sebuah anugrah, tidak ada satupun makhluk hidup yang bisa hidup tanpa air. Itu kalau kita bisa mengelolanya dengan baik, kika tidak kenyataan akan berbicara lain. Musim hujan banjir dan musim kemarau kering kerontang.Seperti biasa, pada musim hujan kali ini sejumlah kawasan di Jakarta dan sekitarnya kembali terendam air. Tingginya air bahkan memaksa ribuan orang mengungsi ke tempat yang lebih aman. Wanita, anak-anak dan kaum renta tidur dengan perlengkapan seadanya di tenda-tenda darurat.Di perekonomian, banjir Jakarta telah menimbulkan kerugian miliaran rupiah. Aktivitas warga sering lumpuh akibat sejumlah ruas jalan tergenang air. Seperti tidak pernah ada niat mengatasi, peristiwa ini selalu terulang setiap tahun. Suatu hal yang sangat memprihatinkan.Setiap kali terjadi banjir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta selalu mengatakan, akan melakukan kajian. Problem tahunan ini akan dipelajari agar kejadian serupa tidak terulang. Tidak ketinggalan, memamerkan sejumlah langkah yang telah diambil untuk menanggulangi banjir. Tapi kenyataannya, ya itu tadi, banjir selalu terjadi setiap tahun.Program pengendalian banjir Pemprop DKI jelas terbukti tidak maksimal. Padahal untuk tahun 2004 ini, Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI sudah menyedot anggaran yang tidak kecil, yakni sekitar Rp 292 miliar, cuma untuk masalah banjir.Rincian, untuk pemeliharaan pengendali banjir Rp 42,5 miliar, perencanaan tekhnik Rp 1,2 miliar, pembangunan pengendali banjir Rp 39,6 miliar, operasi pengendali banjir Rp 15 miliar, dan pembangunan Banjir Kanal Timur (BKT) Rp 150 miliar.Anggaran tersebut di luar alokasi anggaran yang diajukan Suku Dinas (Sudin) Pekerjaan Umum (PU) Tata Air di lima wilayah Jakarta. Masing-masing Sudin PU itu juga mengajukan dana pengendalian banjir. Misalnya Jakarta Pusat Rp 3,29 miliar, Jakarta Utara Rp 15,5 miliar, Jakarta Barat Rp 13,9 miliar, Jakarta Selatan Rp 10,2 miliar, Jakarta Timur Rp 23,5 miliar, dan Kepulauan Seribu 3,6 miliar.Banyaknya dana yang dikeluarkan masih belum sejajar dengan kenyataan di lapangan. Buktinya setiap kali musim hujan datang, sejumlah daerah di Jakarta masih terendam air.Dinas PU DKI mengakui, secara kasat mata memang program-progam tersebut tidak terlihat. Namun itu bukan berarti berbagai program rutin, seperti pengerukan kali dan saluran, untuk mencegah banjir tidak dilakukan. Penggunaan dana dalam proyek-proyek tersebut juga bisa dipertanggungjawabkan."Infrastruktur kita memang tidak seimbang dengan perkembangan kota. Pembangunan gedung banyak tapi pembangunan di bidang air kurang," kata Wakil Kepala Dinas PU DKI, I Gde Nyoman Suwandi, soal banjir di Jakarta.Apa benar demikian? Yang jelas, keseriusan Pemprov DKI di bidang pengelolaan lingkungan hidup juga layak dipertanyakan. Pasalnya, pola pembangunan di Jakarta tidak pernah berdampak signifikan pada keseimbangan ekologis. Banyak lahan yang merupakan daerah resapan air berubah fungsi menjadi daerah bisnis.Rawa Rorotan, di Cakung, Jakarta Timur kini hanya tinggal kenangan. Padahal rawa ini pada awalnya memiliki luas sekitar 50 hektar. Rawa kendal, di Cilincing, Jakarta Utara dari 20 hektar kini juga sudah tidak ada lagi. Rawa Ulu Jami, Jakarta Selatan pada tahun 1990 masih seluas 10 hektar kini tinggal 5 hektar.Jika ini terus dibiarkan, tentu satu persatu daerah resapan air di Jakarta bakal hilang. Artinya kita tidak bisa lagi melindungi air secara maksimal. Setiap tahun banjir dan krisis air bakal terus datang silih berganti. (djo/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads