Kebutuhan Alat Kontrasepsi di Aceh Meningkat

Kebutuhan Alat Kontrasepsi di Aceh Meningkat

- detikNews
Selasa, 25 Jan 2005 05:49 WIB
Jakarta - Hidup terlunta-lunta di pengungsian membuat pasangan yang selamat dari musibah tsunami di Aceh tidak ingin terjadi kehamilan. Kebutuhan suplai alat kontrasepsi pun meningkat.Demikian disampaikan Badan Dana Populasi Dunia (UNFPA) melalui rilisnya, Selasa (25/1/2005). UNFPA membantu pemerintah dan populasi lokal di semua negara yang terkena musibah tsunami untuk mendukung respons dana darurat.Disebutkan, empat minggu setelah tsunami, para dokter dan pekerja sosial lokal mengatakan permintaan alat kontrasepsi akan meningkat untuk mencegah kehamilan selama di pengungsian.Seorang dokter medis dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Tri Tjahjadi mengatakan pihaknya mengalami peningkatan permintaan alat kontrasepsi dari orang-orang di pengungsian di berbagai tempat di Aceh."Begitu para korban musibah mulai pulih kembali, diperkirakan akan ada peningkatan aktivitas seksual, khususnya selama tiga bulan ke depan," sebutnya.Menurut Tri, pihaknya telah menerima 16 ribu unit alat kontrasepsi berupa suntik, pil, dan kondom. Padahal kebutuhan sebenarnya adalah 80 ribu unit. Kendalanya lagi, BKKBN tidak memiliki staf yang cukup dan kendaraan bermotor untuk mendistribusikan alat kontrasepsi yang sudah tersedia.Dalam situasi yang normal, sekitar 60 persen pasangan Indonesia menggunakan alat kontrasepsi secara reguler."Banyak perempuan yang tidak menginginkan kehamilan selama hidup di kamp pengungsi. Mereka biasa mendapatkan alat kontrasepsi dari Puskesmas. Tapi sekarang tidak bisa karena kurangnya suplai atau kurangnya akses personel kesehatan," kata Lily Puspasari, pakar masalah jender yang bekerja untuk UNFPA di Aceh.Sebagai respons atas musibah tsunami, UNFPA menyediakan alat kontrasepsi beserta perlengkapannya, obat-obatan, dan suplai untuk menjamin kelahiran anak yang aman dan mencegah penularan infeksi dan HIV/AIDS melalui hubungan seksual.Pelayanan keluarga berencana (KB) dinilai penting sebagai buntut bencana alam, sebab mereka menolong pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan, menghindari jarak kehamilan yang terlalu dekat, serta mencegah kehamilan berbahaya pada perempuan yang terlalu muda atau terlalu tua, begitu juga untuk mencegah penularan penyakit melalui hubungan seksual, termasuk HIV/AIDS.Darmiyati (23), seorang ibu dari bocah pria berusia 6 bulan yang tinggal di kamp Lampeuneuruti di Banda Aceh mengaku tidak sanggup untuk memiliki anak lagi. "Pokoknya tidak untuk situasi seperti ini di pengungsian. Apalagi saya sudah kehilangan harta benda," ujarnya. (sss/)


Berita Terkait