Sambil Bawa Granat, Nimrot Sempat Matikan Sekring Listrik
Senin, 24 Jan 2005 20:40 WIB
Jakarta - Nimrot Batubara rupanya sempat mematikan sekring listrik sambil membawa granat. Setelah itu dia masuk ke rumah kos. Tak berapa lama kemudian ada ledakan di ruang tamu."Sebelum granat meledak, Nimrot keluar sambil membawa granat kemudian mematikan sekring. Setelah itu dia masuk kembali, pintu dan gorden ditutup. Tidak berapa lama kemudian ada ledakan," kata seorang saksi bernama Muamar kepada detikcom, Senin (24/1/2005).Muamar tinggal di seberang rumah kos yang ditempati Nimrot. Dua anggota Brimob Kelapa Dua tewas akibat ledakan granat di rumah kos tersebut di Kampung Rumput RT 12/01, Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kecamatan Cimanggis, Depok atau tepat di belakang Asrama Brimob Kelapa Dua pukul 05.30 WIB.Nimrot yang berpangkat Ajun Brigadir II menjadi salah satu korban tewas. Rekannya yang tinggal di rumah kos yang sama Ajun Brigadir II Amri Turnip juga tewas. Sedangkan anggota Brimob lainnya bernama Lembong yang juga menghuni rumah kos tersebut selamat karena sedang lari pagi.Menurut Muamar, ledakan kemudian diketahui berasal dari granat yang meledak di ruang tamu. Ledakan menyebabkan kerusakan pada lantai, juga tembok sekitar jadi bolong-bolong."Eternit juga rusak. Bahkan sebagian tubuh korban seperti jari tersangkut di eternit. Barang-barang seperti TV, bufet, akuarium dan radio juga rusak," urainya.Setelah ledakan terjadi, lanjut dia, ambulans dan satu unit mobil dari Brimob datang. Lokasi ledakan dibersihkan. Lalu petugas membawa jenazah ke RS Polri untuk divisum.Pemilik rumah kosan berukuran 3x7 meter bernama Ramidi sempat mendatangi lokasi. Setelah melihat-lihat, Ramidi yang tinggal di Cililitan itu pulang pada sore harinya."Warga di sini sama sekali nggak menyangka musibah ini terjadi. Kami sangat kehilangan mereka. Mereka orangnya baik dan ramah sama tetangga, makanya banyak tetangga yang merasa kehilangan," ujar Muamar.Apalagi, lanjut dia, para tetangga sudah mendengar kalau Amri akan menikah bulan depan, sehingga mereka pun ikut prihatin. "Mereka bertiga sudah lama ngontrak di sini sekitar 4 tahun. Mereka baru pulang dari tugas di Aceh sejak sebelum tsunami," kata Muamar.
(sss/)











































