Busyro Berbagi Cerita: Partai Politik Harus Kita Tolong, Jangan Dihajar

Busyro Berbagi Cerita: Partai Politik Harus Kita Tolong, Jangan Dihajar

- detikNews
Kamis, 18 Des 2014 16:12 WIB
Busyro Berbagi Cerita: Partai Politik Harus Kita Tolong, Jangan Dihajar
Yogyakarta - Busyro Muqoddas masih ingin berbakti untuk Indonesia. Dia merasa ada yang kurang saat tak lagi di KPK. Jalan terjal dan tantangan selama menegakkan perlawanan terhadap korupsi adalah yang dikangeninya.

Ditemui di rumahnya yang asri di Nitikan, Yogyakarta, Kamis (18/12/2014) Busyro tampak rileks. Dia berbagi kisah pengalamannya selama empat tahun di KPK. Busyro menyebut untuk memperbaiki Indonesia salah satunya dimulai dari partai politik. Ada yang keliru dalam pendidikan politik di partai politik

"Ini bukan omongan kosong, parpol-parpolnya sekarang di Indonesia menyedihkan. Kasihan, Parpol harus kita tolong, jangan hajar," jelas Busyro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia membeberkan mengenai perilaku massa Parpol. Menurutnya, ketika Parpol dibangun di atas ideologi fanatisme-fanatisem semu dan ideologi semua, maka yang terjadi birokrasi Parpol yang merugikan rakyat.

"Seperti yang sekarang ini tampak. Perpecahan DPR, perpecahan partai tertentu. Kalau Parpol berhasil, tidak mungkin ada orang Parpol yang tersangkut korupsi. Kok orang Parpol, DPR terutama kok korupsi. Kalau sudah ditangkap masih dibela mati-matian. Sampai orang dianjing-anjingkan," cerita Busyro yang juga pernah diterorn SMS karena menetapkan seorang politisi menjadi tersangka.

"Ya tidak semata-mata karena Parpol-parpolnya. Parpolnya masih banyak yg baik," tambah dia.

KPK, lanjut Busyro, tak henti-hentinya mendapat serangan dari orang politik. Mulai dari tudingan antek zionis sampai yang aneh-aneh.

"Artinya, dari kasus SMS menganjing-anjingkan saya dan tudingan antek zionis, ini pendidikan moralnya, reaksi-reaksi menunjukkan kualitas moral. Lha ini KPK dituduh zionis, KPK lho. Bukan Abraham, Busyro, bukan Bambang. Kalau anjing tadi saya," urai dia.

"Jadi inilah, KPK itu kursi yang mulia tapi panas. Kursi yang panas tapi mulia. Mulia karena diberi tugas oleh UU dan rakyat, sejak periode pertama. Mulia, panasnya di mana. Wuees, banyak orang memfitnah, mempolitisasi. Tidak berhenti di situ, yang zionis tadi, ada twitter-twitter dari kelompok Piyungan, dan ada orang yang mendemo. Begitulah orang yang tidak pernah diberi pendidikan politik tapi tereksploitasi oleh fanatisme buta politik aliran. Ini yang bahaya. Ini penting," tutup dia.

(sip/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads