Kubu Agung Laksono terlebih dahulu mewacanakan perlunya munas rekonsiliasi. Hanya saja kubu Agung mensyaratkan munas pemersatu beringin itu harus benar-benar terselenggara oleh panitia yang memang netral.
"Saya sarankan agar dilakukan munas diulang. Panitia seperti OC dan SC yang ada di Munas Bali dan Ancol tidak boleh lagi jadi panitia dan harus dicari orang yang benar-benar netral, tidak ada kepentingan dan tidak berpihak ke salah satu kubu," kata salah satu petinggi Golkar kubu Agung Laksono, Melchias Mekeng, kepada wartawan, Selasa (16/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya akan instruksikan kepada teman-teman untuk melakukan suatu pembicaraan-pembicaraan dengan pihak Agung, dengan demikian dicari penyelesaian. Tentu bila tidak bisa diselesaikan di mahkamah partai, kita akan siap ke pengadilan," kata Ical di Bakrie Tower kawasan Epicentrum, Jl HR Rasuna Said, Jaksel. Ical menyampaikan hal ini di sela-sela pertemuan dengan sejumlah sesepuh Golkar.
Dua elite kubu Ical yang menjadi duta perdamaian adalah Ketua Harian MS Hidayat, dan Waketum Sharif Cicip Sutarjo. Keduanya pun telah sepakat dengan kubu Agung soal penutupan sementara kantor DPP Golkar sampai Januari 2015 mendatang.
Namun demikian Ical belum sepakat soal digelarnya munas rekonsiliasi tersebut. Namun bukan berarti Ical menutup pintu sepenuhnya digelarnya munas penyelamatan Golkar itu.
"Saya kira masih terlalu jauh munas gabungan. Tentu kita mengharapkan dulu apa yang diputuskan Mahkamah Partai dan pengadilan, kita jalankan dulu," ujar Ical.
Sementara itu sejumlah sesepuh Golkar seperti BJ Habibie, Jusuf Kalla, mulai turun gunung untuk membantu penyelesaian kisruh Golkar. Lalu apakah munas rekonsiliasi bakal dipilih sebagai jalan penyelesaian perpecahan di tubuh Golkar?
(van/try)











































