Pengusaha Rebut Ketum Parpol, Bukti Uang Jadi Modal Utama

Pengusaha Rebut Ketum Parpol, Bukti Uang Jadi Modal Utama

- detikNews
Senin, 24 Jan 2005 15:51 WIB
Jakarta - Pengusaha ikut merebut posisi ketua umum parpol telah menjadi tren baru. Bila sampai pengusaha terpilih sebagai ketua umum partai politik, itu bukti bahwa kekuatan uang menjadi modal utama dalam berpolitik. Pandangan ini disampaikan pengamat politik dari Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS) Sukardi Rinakit saat berbincang-bincang dengan detikcom, Senin (24/1/2005). Sukardi menanggapi banyaknya pengusaha yang berebut menjadi ketua umum parpol, seperti M Jusuf Kalla, Arifin Panigoro, dan Sutrisno Bachir. Sukardi memang melihat keinginan pengusaha menjadi ketua umum parpol telah menjadi tren terbaru dalam dunia perpolitikan di Indonesia. "Selama ini, terutama pada saat Order Baru, pengusaha paling banter hanya menjadi bendahara partai politik. Saat ini, tampaknya ada kesadaran baru, karena memang memiliki sumber daya politik, yaitu uang, untuk apa hanya menjadi bendahara, kan lebih baik jadi ketua umum parpol," ungkap dia. Menurut Sukardi, kekuatan uang sangatlah penting untuk menjadikan seseorang sebagai ketua umum partai politik. Bahkan, kata Sukardi, kekuatan uang (power of financial) menjadi modal utama untuk terjun di dunia politik. Ini bisa dilihat dari sejumlah praktek politik di partai-partai besar, misalnya yang terjadi di Partai Golkar. "Kekuatan utama memang kekuatan uang. Dan kekuatan uang ini bisa mengalahkan kekuatan akal (power of mind)," kata Sukardi. Kecenderungan pengusaha untuk menjadi ketua umum parpol, kata Sukardi, bisa terjadi di parpol mana pun, termasuk parpol-parpol besar, termasuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS). "Para pengusaha tidak mungkin berebut ketua umum parpol kecil," ujarnya. Menurut Sukardi, kecenderungan para pengusaha untuk berebut ketua umum parpol juga terjadi di negara-negara lain. Dan tentu, kata dia, tren pengusaha yang berebut menjadi ketua umum parpol merupakan proses pembelajaran yang baik bagi politik di Indonesia. "Kalau memang para pengusaha nanti memimpin parpol dengan buruk, berarti di masa mendatang, mereka tidak akan terpilih lagi," kata Sukardi. (asy/)


Berita Terkait