Yuk Dicoba! Bikin Kompos dari Sampah Rumah Tangga

Yuk Dicoba! Bikin Kompos dari Sampah Rumah Tangga

- detikNews
Senin, 15 Des 2014 16:10 WIB
Yuk Dicoba! Bikin Kompos dari Sampah Rumah Tangga
Jakarta - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menggelar pameran Inovasi Teknologi Lingkungan terkait program pemerintah Gerakan Nasional Indonesia Bersih (GNIB). Dari berbagai teknologi, terdapat 2 cara sederhana pengelolaan sampah rumah tangga yang mudah dilakukan.

Kedua teknologi sederhana pemanfaatan sampah rumah tangga disosialisasikan di pameran yang digelar di Gedung 2 BPPT, Jl MH Thamrin, Jakpus, Senin (15/12/2014). Teknologi yang pertama adalah Komposter Aerobik dengan alat bahan dasar utama adalah tong plastik berukuran sedang untuk meletakkan sampah organik sayuran untuk dikelola menjadi kompos atau pupuk.

Langkah yang harus pertama kali dilakukan adalah dengan cara membuat lubang kecil-kecil di tiap sisi tong, termasuk di bagian bawah tong. Untuk permukaan dalam tong, perlu diberikan styrofoam dan atasnya diberikan karpet yang juga dibolongi kecil-kecil untuk menyerap air yang keluar dari sayuran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Metode ini hanya digunakan untuk sampah sayuran sebelum dimasak, seperti cacahan bonggol sawi, kol, caisim, atau sayur-sayuran lainnya, yang tidak diikutsertakan untuk dimasak.

"Ditaruh di luar rumah, tapi terlindung dari cahaya dan air hujan. Di bawahnya diberi pengganjal supaya tidak langsung menyentuh tanah atau permukaan datar supaya udara masuk karena ini sistemnya aerob jadi butuh oksigen. Tapi ini khusus sayur, kalau ada dagingnya bisa menimbulkan belatung," ujar asisten peneliti BPPT, Sarkiwan saat ditemui di lokasi pameran.

Sebisa mungkin cacahan sayur dipotong kecil-kecil sebelum dimasukkan ke dalam tong. Untuk permulaan, starter diperlukan untuk mengurangi kadar air. Bisa dengan kompos yang sudah jadi, ataupun sekam. Kumpulan sampah sayur ini juga perlu diaduk secara berkala. Saat bagian bawah sudah mulai terbentuk sebagai kompos, bagian tersebut sudah bisa menjadi kompos untuk campuran sampah sayur yang lebih baru.

"Kalau dirasa sudah cukup penuh bisa diputuskan untuk tidak lagi memasukkan sampah sayuran. Makanya kami sarankan sediakan 2 tong di dalam rumah, sehingga saat 1 sudah penuh dan dibiarkan untuk proses pengomposan secara menyeluruh, maka tong yang satunya bisa kita gunakan," kata Sarkiwan.

"Proses pengomposan bisa 6-7 minggu. Perlu diaduk seminggu sekali supaya bakteri bisa bernafas. Bisa mengaduk dengan catok atau kalau sudah agak penuh dengan kayu. Atau apa saja selama bisa untuk mengaduk. Tahunya kalau udah jadi kompos warnanya sudah hitam kecokelatan. Dan kalau diremas airnya sudah nggak banyak yang keluar," sambungnya.

Metode kedua adalah Magcomp untuk sampah-sampah organik bekas makan. Tak hanya sayuran, untuk pengelolaan sampah dengan teknologi ini, sampah bekas makan apapun bisa dimasukan.

Mulai dari bekas nasi, sayuran, hingga tulang dan daging. Caranya dengan menggunakan 2 ember yang ditimbun ke tanah dan diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari. Cara ini akan menghasilkan kompos dan pelet (makanan ternak).

Caranya adalah dengan menggabungkan 2 buah ember dengan posisi bagian atas yang saling menghadap lalu direkatkan dengan bor. Ember yang berada di bawah sisinya dilubangi kecil-kecil dan bagian permukaannya dicopot (dibuka).

Sementara ember kedua tak perlu dilubangi, namun bagian permukaannya perlu dicopot atau dibuka juga. Permukaan untuk ember ini jangan dibuang namun dijadikan sebagai penutup yang bisa diangkat untuk dibuka tutup.

Teknologi ini memerlukam lahan yang ada tanahnya karena 1/2 atau 3/4 dari 2 ember yang telah disatukan tadi harus ditimbun dalam tanah. Ember yang sisinya dibolongi harus tertimbun tanah semua. Sementara sampah organik bisa dimasukkan melalui penutup yang bisa dibuka tutup di ember bagian atas yang sampingnya tidak diberi lubang.

"Ini sistemnya pembusukan atau anaerob. Nanti karena kelembapan dan pembusukan akan muncul belatung atau maggot. Belatung ini akan memakan sisa-sisa makanan kita. Kalau sudah mau penuh bisa beralih ke Magcomp yang lainnya sambil menunggu proses komposing," jelas Sarkiwan.

"Nggak perlu khawatir belatung akan keluar-keluar karena ember licin dia nggak akan bisa manjat. Terus kondisi kan tertutup dan belatung nanti akan mati dengan sendirinya saat sumber makanannya sudah nggak ada dan juga karena tidak ada udara serta terkena sinar matahari yang menyengat," imbuh pria yang tinggal di Serpong, Tangerang ini.

Belatung yang sudah mati nantinya bisa dijadikan pelet untuk ternak seperti lele. Sementara dari sisa pembusukan makanan akan tercipta kompos. Untuk mengetahui kompos telah jadi adalah saat belatung sudah pada mati dan berwarna kecokelatan. Ember tinggal ditarik dari timbunan tanah, maka kompos dan belatung yang bercampur tanah bisa dipanen.

"Sudah dicoba sama penciptanya, ini sampai 5 bulan nggak penuh Magcomp nya. Sampah rumah tangga ini kan memberatkan TPA (tempat pembuangan akhir). Dengan Komposter skala rumah tangga ini kan bisa mengurangi beban sampah. Penciptanya Dr Sri Wahyono," tutup Sarkiwan.

Tak ada salahnya untuk mencoba teknologi sederhana tersebut. Selain mudah serta murah cara pembuatannya, metode ramah lingkungan ini mampu mengurangi sampah di TPA.

Pengelolaan sampah organik rumah tangga itu pun juga memiliki manfaat dengan menghasilkan pupuk yang bisa digunakan untuk tanaman. Selamat mencoba!

(ear/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads