WHO: RI Harus Prioritaskan Rehabilitasi Pelayanan Kesehatan
Senin, 24 Jan 2005 13:03 WIB
Jakarta - Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengingatkan pemerintah Indonesia bahwa tantangan terbesar yang dihadapi pasca gempa dan tsunami adalah mengembalikan fasilitas pelayanan di Aceh dan Sumatera Utara seperti sediakala.Hal ini disampaikan Perwakilan Khusus WHO Eigil Forensen dalam jumpa pers di Kantor PBB, Jl.MH Thamrin, Jakarta, Senin (24/1/2005). Dalam jumpa pers itu Eigil didampingi Wakil WHO untuk Indonesia Georg Petersen."Oleh karena itu pemerintah hendaknya menjadikan pemulihan fasilitas pelayanan kesehatan sebagai prioritas dalam rehabilitasi Aceh dengan tidak mengesampingkan rehabilitasi fisik dan sosial lainnya," kata Eigil.Menurut Eigil, permasalahan yang juga dihadapi dalam waktu dekat adalah bagaimana mengembalikan kehidupan anak-anak Aceh kembali normal seperti bersekolah dan kegiatan sehari-hari lainnya. Untuk mengembalikan orang-orang ke tempat asal dan rutininas sehari-hari ini jauh lebih sulit daripada merehabilitasi sarana fisik.Eigil juga menjelaskan WHO sudah menyediakan lima laboratorium di Aceh yang mengkover rumah-rumah sakit di sana. Sebab dikhawatirkan ada ancaman wabah malaria karena musim hujan dapat mempercepat perkembangbiakan nyamuk penular malaria. Meskipun demikian WHO belum menemukan adanya wabah penyakit apapun di Aceh. Kasus yang cukup menonjol adalah ditemukan 91 kasus tetanus dengan perincian 17 kasus di Meulaboh, dan sekitar 60 di Sigli, dan sisanya di Banda Aceh.Sementara Georg Petersen menyatakan untuk memprioritaskan rehabilitasi pelayanan kesehatan tersebut pemerintah harus berkoordinasi dengan seluruh instansi terkait. Dalam waktu dekat WHO akan berkoodinasi dengan pemerintah untuk mewujudkan upaya tersebut, di antaranya dengan mendatangkan tenaga medis dan paramedis tambahan.
(gtp/)











































