Kolom
Trauma Tsunami di Benak Kita
Senin, 24 Jan 2005 10:28 WIB
Jakarta - Palu diguncang gempa. Gempa itu menghampiri ibukota Sulawesi Tengah itu, 3 kali pada saat subuh hendak menyergap malam, Senin (24/01/2005). BMG Makassar memperkirakan kekuatan gempa 6,2 pada skala ritcher. Beberapa unit bangunan di Palu dilaporkan mengalami kerusakan.Namun bukan kerusakan itu yang menarik perhatian, tapi apa yang dilakukan penduduk Palu beberapa saat setelah gempa terjadi. Tindakan mereka ternyata cukup membuat kita mengernyitkan dahi. Puluhan ribu orang sebagaimana dilaporkan detikcom, turun ke jalan-jalan. Mereka menuju luar kota.Daerah yang dituju adalah wilayah pedalaman yang dinilai lebih tinggi. Daerah itu antara lain Kelurahan Donggala Kodi dan Gunung Galalise. Orang dengan berjalan kaki, naik motor, naik mobil, naik truk, menuju ke sana. Saking banyaknya, lalu lintas langsung macet 3 km pada pagi buta tadi.Mereka panik! Bencana tsunami yang diawali dengan gempa kuat yang melanda saudara-saudara mereka di Aceh dan Sumut, telah menyemai bibit kecemasan. Khawatir derita mahahebat yang melanda Aceh dan Sumut juga membinasakan kehidupan serta harapan mereka. Sedikit menggelikan namun jelas bukan lelucon. Trauma yang diderita bangsa ini akibat bencana tsunami di Aceh, begitu dalam. Meski tak menjadi korban langsung, tapi luka dan ketakutan itu ikut terasa. Sebelum Palu, beberapa waktu lalu, di Maluku, ribuan penduduk juga sibuk mengungsi karena takut tsunami.Mungkin bukan hanya penduduk Palu dan Maluku, seluruh warga di pesisir pantai di Indonesia manapun yang sempat melihat rekaman kehancuran Aceh, akan berpikir serupa. Jakarta pun, andaikata dilanda gempa kuat, bisa jadi langsung kosong karena penduduknya mengungsi ke Bogor atau Puncak Pass.Hal ini yang mungkin perlu diperhatikan oleh pemerintah. Di ambil dari sisi positif, kritik yang disampaikan mantan Presiden Megawati bahwa pemerintah lamban mensosialiasikan impact tsunami menjadi relevan. Ke depan, pemerintah memang perlu melakukan tindakan yang mampu meredam kekhawatiran pada masyarakat akan bahaya tsunami.Yang paling penting, adanya sosialisasi penanganan gempa/tsunami dan juga jaminan kepastian informasi bila gempa itu datang. Toh, terbukti trauma akibat tsunami Aceh tak hanya melanda warga Aceh namun juga dipikul oleh saudara-saudaranya se-tanah air!
(diks/)











































