KSAD Curhat dengan Prajurit yang Keluarganya Hilang di Aceh
Senin, 24 Jan 2005 10:21 WIB
Aceh Besar - Kepala Staf TNI AD Jenderal Ryamizard Ryacudu menunjukkan keprihatiannya kepada anak buahnya yang kehilangan anggota keluarga dalam musibah gempa dan tsunami di Aceh. KSAD bicara dari hati ke hati alias curhat dengan prajurit TNI tersebut.Acara curhat ini dilakukan KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu di akhir apel besar yang diikuti 2.000 personel TNI dari Kodam Iskandar Muda dan pasukan BKO di Stadion Harapan Bangsa, Aceh Besar, Senin (24/1/2005). Dalam kesempatan itu KSAD memanggil para prajutit yang kehilangan anggota keluarganya. Sekitar 10 prajurit TNI AD maju memenuhi panggilan komandan tertingginya tersebut. Kemudian KSAD menyalami dan memeluk mereka satu persatu. KSAD, yang didampingi Pangdam Iskandar Muda Mayjen TNI Endang Suwarya dan Wakil KSAD Letjen Djoko Santoso, kemudian mengajak para prajurit TNI tersebut untuk duduk di rumput. Lalu KSAD menanyai mereka satu persatu.Pertanyaan yang diajukan KSAD, antara lain, tentang asal kesatuan, pangkat dan jabatan, anggota keluarga yang jadi korban --apakah anak atau isteri, atau kedua-duanya, dan ditanya permintaannya apa.Dari para prajurit yang kehilangan anggota keluarganya itu yang paling tinggi pangkatnya adalah seorang anggota TNI berpangkap letnan kolonel. Ia kehilangan empat anaknya hilang, sedang isterinya selamat.Ketika ditanya apa permintaannya, jawaban para prajurit itu beragam. Ada yang meminta dipindahkan ke Jakarta, dipindahkan ke Jawa barat, minta disekolahkan, tapi ada juga yang minta tetap bertahan di kesatuannya Aceh karena ingin menyelesaikan pekerjaannya.Jawaban yang terakhir itu disampaikan seorang Wakil Komandan Zeni Tempur yang anak dan isterinya hilang di daerah Lhok Nga. Ia ingin bertahan di Aceh untuk mencari anggota keluarga dan anak buahnya yang hilang serta membantu para pengungsi.Saat bencana gempa dan tsunami melanda Aceh ada sekitar 30.000 personel TNI AD yang bertugas di Aceh. Mereka bertugas mengamankan Aceh yang masih berstatus darurat sipil. Sekitar 700 personel TNI ikut menjadi korban, dan ribuan bila ditambah anggota keluarganya.
(gtp/)











































