Cerita Ahok Ogah Razia PSK yang Mangkal di Jalan

Cerita Ahok Ogah Razia PSK yang Mangkal di Jalan

- detikNews
Sabtu, 13 Des 2014 22:24 WIB
Cerita Ahok Ogah Razia PSK yang Mangkal di Jalan
Jakarta - DKI Jakarta memiliki berbagai permasalahan sosial dan menyisakan pekerjaan rumah bagi sang Gubernur Basuki T Purnama (Ahok). Pria yang belum lama menggantikan Joko Widodo di pucuk pimpinan DKI ini punya cerita mengenai Pekerja Seks Komersil (PSK). Ahok tidak mau merazia mereka.

Beberapa permasalahan sosial yang ia hadapi diceritakan Ahok saat menghadiri peringatan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional yang digelar Dinas Sosial DKI. Ia memberi apresiasi bagi Dinas Sosial DKI yang dianggapnya sudah jauh lebih baik dari saat ia pertama kali memimpin Jakarta.

"Kita bersyukur acara ini tahunan, kita bisa merasakan Dinsos kerja jauh lebih baik. Waktu saya pertama memimpin Jakarta, Satpol PP izin bilang 'Pak mau razia PSK', saya tanya di mana, katanya di Kemayoran, (saya bilang) nggak boleh," ujar Ahok di lokasi acara, Monas, Jakpus, Sabtu (13/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bukan tanpa sebab Ahok melarang Satpol PP merazia para PSK. Suami Veronica Tan ini miris melihat bagaimana cara Satpol PP menggerebek PSK di jalan, termasuk gelandangan, yang tidak manusiawi.

"Saya sengaja cerita, anak-anak dikejar di jalan, kalau ketabrak gimana. Saya pernah baca di media, PSK dikejar-kejar (Satpol PP) terus nyebur masuk ke kali Sunter akhirnya sampai meninggal," tutur Ahok.

"Itu yang dirazia yang tua-tua di jalan, (kegiatan prostitusi) yang di apartemen nggak (dirazia). Kita tidak ingin Jakarta jadi modern, tapi tidak manusiawi," sambungnya.

Menurut Ahok, permasalahan sosial yang harus ia hadapi tak sedikit. Contohnya lain adalah bagaimana warga Kampung Pulo yang tinggal di bantaran kali Ciliwung. Warga menolak direlokasi dan justru ada yang menjual rumah susun yang disediakan pemerintah untuk mereka.

"Masalah sosial emang Jakarta bermasalah. Contoh tinggal di dekat sungai. Saya dapat laporan katanya Jakarta banjir 7 m di Kampung Pulo. Kalau (Jakarta banjir) 7 m rumah saya di Pluit sudah tenggelam dong. Ya gimana (Kampung Pulo) nggak banjir 7 m, orangnya tinggal di dalam sungai," tutur Ahok.

Mantan politisi Gerindra ini pun menceritakan pengalamannya berkomunikasi dengan warga Kampung Pulo. Mereka mengatakan enggan keluar dari Bantaran kali dengan alasan sudah puluhan tahun sejak lahir tinggal di daerah tersebut.

"Dikasih rusun ada yang mau jual Rp 50 juta, dijual dibalik nama. Oknum ada yang main di situ. Dapat bagian Rp 5 juta. (Orang yang menjual) Terus bangun rumah beton di bantaran sungai lagi. PLN bantu masukin listrik, katanya kehabisan daya tapi itu bisa, PAM juga gitu," sindir bapak dua anak itu.

"Saya tanya kenapa bapak lakukan? (Dia bilang) 'saya dari lahir sampai umur 67 tahun miskin, bapak kasih rumah susun ke saya tapi saya tetep miskin'. Ini pembiaran namanya," imbuhnya.

Untuk itu Ahok pun mengatakan harus tegas dalam mengurus Jakarta. Menurutnya membantu orang susah bukan berarti dengan memanjakan orang susah. Hal yang paling penting dalam memperbaiki kesejahteraan warga Jakarta disebutnya adalah dengan melakukan keadilan sosial.

"Kita di Jakarta akan lakukan dengan tegas. Tugas pemerintah mengadministrasi keadilan sosial. Mau miskin mau kaya kita akan tertibkan, tidak ada toleransi," tutupnya.

(ear/kha)


Berita Terkait