Menjelang wafatnya, Een sebenarnya sedang sibuk-sibuknya. Selain membantu anak didiknya menghadapi ujian akhir semester, ia juga tengah mempersiapkan berbagai acara untuk pembukaan 'Rumah Pintar' yang ia idamkan selama ini. Anak didiknya berlatih paduan suara, menari, juga baca puisi.
Rumah yang dibangun sejak 2013 itu baru rampung 75 persen. Dana pembangunan berasal dari donasi kelompok istri menteri Kabinet Indonesia Bersatu serta civitas akademika UPI Bandung. Lokasi rumah pintar itu berada tak jauh dari kediaman Een.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikdik berharap janji Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan Bupati Garut Ade Irawan saat sambutan pada pelepasan jenazah benar-benar ditepati. Aher dan Ade memang berjanji akan meneruskan pembangunan rumah pintar hingga tuntas.
Rencananya di rumah pintar itu akan ada lima sentra, di antaranya sentra bermain, sentra komputer, dan sentra buku.
Een memang benar-benar pejuang pendidikan tanpa pamrih. Rumah Pintar yang ia rintis, tak dinamai namanya. Ia memilih nama Rumah Pintar Albarokah.
"Saat masih hidup, Uwa enggak mau namanya jadi nama rumah pintar. Katanya takut jadi riya," ujar Dikdik.
Namun kemungkinan besar nama rumah pintar nanti akan dinamai Een. "Uwa kan sekarang sudah meninggal. Ini untuk mengenang almarhumah," ujarnya.
Beberapa minggu sebelum kematiannya, Een pernah berujar kalau rumah pintar akan maju sepeninggalnya. "Kami yakin, rumah pintar akan maju seperti yang Uwa bilang," kata Nining, kerabat yang selama ini merawat Een.
(ern/kha)











































