Suaranya bagus. Lagu yang paling ia suka adalah 'Andai Ku Tahu' yang dipopulerkan grun band Ungu.
"Kita dilatih paduan suara sama Uwa (panggilan anak didik dan kerabat pada Een). Suara Uwa itu bagus banget. Ngajinya juga merdu," ujar Rani Aanisah (15), siswa SMP kelas 3 saat mengantar jenazah Een untuk dimakamkan di TPU Lio, Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Sabtu (13/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain diajarkan bernyanyi, ia juga mengaku diajari menari. Awalnya untuk koreografinya dibantu oleh mahasiswa yang membantu Een. Setelah itu Een lah yang mengajarkannya.
"Jadi saat pertama kita diajarkan tarian oleh teteh mahasiswa, Uwa memperhatikannya. Setelah itu, Uwa sendiri yang mengajarinya. Caranya ya dikasih petunjuk sama Uwa. Misal tangannya diangkat ke atas, kaki kiri ke depan," ujar Rani.
Meski hanya dengan cara itu, diakui Rani, ia dan teman-temannya mengerti. "Uwa itu memang pintar mendeskripsikan. Ia kaya penulis. Seperti kita saat baca novel, kita bisa membayangkan apa yang ditulis si penulis. Begitu juga Uwa, kita gampang dengan mengerti ucapannya," ujar anak didik Een lainnya, Lela (20), mahasiswi UPI Bandung.
Selain itu, ternyata Een juga bisa mengajari angklung dan pianika. "Ah Uwa itu semua bisa. Kita juga bisa curhat apa saja sama Uwa," ujar Rani.
Baik Rani maupun Lela, keduanya merasa kehilangan sosok Een yang sudah mereka anggap sebagai ibu sendiri. "Tapi mungkin ini yang terbaik buat Uwa, sudah terlalu lama merasakan sakit," ujar Lela dengan lirih.
Hampir 30 tahun, Een lumpuh karena penyakit radang sendi yang dideritanya. Selama itu pula ia tak patah semangat mengajari anak-anak di sekitar rumahnya Dusun Batu Karut Cilamaka, Kabupaten Sumedang. Itu semua ia lakukan sambil berbaring.
(ern/kha)











































