Kejadian ini dialami Dita pagi hari sekitar pukul 06.30 WIB. Saat itu dia naik Kopaja P20 dari Stasiun Cikini ke arah Rasuna Said, Kuningan, Jaksel.
"Semua tempat duduk di P20 yang saya naiki sudah terisi penuh. Saya berdiri di bagian belakang dengan dua orang lainnya," cerita Dita dalam surat elektronik yang diterima redaksi@detik.com, Kamis (11/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat akan bertukar tempat, tiba-tiba kakinya tersandung oleh penumpang lain yang berdiri. Akibatnya, kondisi di bagian belakang Kopaja pun menjadi 'ramai'. Orang yang memberi bangku pada saya berulang kali minta maaf pada penumpang yang berdiri itu," kisahnya.
Dita yang 'terjebak' dalam situasi itu tak lagi memperhatikan barang-barang berharganya. Perhatiannya teralihkan pada penumpang yang tersandung dan meminta maaf itu.
"Tak lama beberapa penumpang termasuk yang memberi duduk pada saya dan laki-laki yang kakinya tersandung itu turun. Saya hitung ada enam orang yang turun. Seketika itulah saya baru sadar kalau ada yang tidak beres. Langsung saya cek tas saya dan benar saja, dompet saya sudah raib," ucapnya.
Dita tak bisa berbuat apa-apa, para komplotan 'sandung kaki' itu sudah kabur melarikan diri. Namun anehnya, beberapa hari kemudian, Dita menerima paket yang isinya dompet yang dicopet berserta sebuah surat yang isinya mengaku menemukan dompet Dita di tong sampah.
"Uang sama sekali sudah tidak ada, tapi semua kartu ATM, E-KTP, kartu asuransi, dan lain-lain masih ada. Semoga yang mengembalikan dompet saya dapat balasan yang setimpal," katanya.
Modus copet di angkutan umum memang biasanya diawali dengan mengalihkan perhatian para penumpang. Setiap hari, strategi mereka terus berubah. Ada yang menggunakan trik menepuk pundak sambil memberi tahu ada kotoran burung. Ada juga yang sok akrab sambil menawarkan pijatan ringan. Berhati-hatilah!
(slm/mad)










































