Mega Nilai Pemerintah Kurang Sosialisasikan Gempa dan Tsunami
Minggu, 23 Jan 2005 15:07 WIB
Jakarta -
Banyaknya korban di Aceh dan Sumatera Utara akibat tsunami, dinilai mantan Presiden Megawati, karena pemerintah kurang menyosialisasikan soal gempa dan tsunami kepada masyarakat. Padahal, munculnya tsunami bisa dideteksi dari awal. Hal ini disampaikan Megawati kepada wartawan seusai merayakan ulang tahun (ultah)-nya yang ke-38 di kediamannya, Jl. Teuku Umar, Jakarta Pusat, Minggu (23/1/2005). Menurut Mega, seharusnya peran Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) bisa digunakan semaksimal mungkin. "Saya lihat memang pemerintah kurang menyosialisasikan gempa dan tsunami ini. Semasa saya dulu, saya telah memperingatkan BMG agar dipergunakan semaksimal mungkin. Waktu itu BMG merupakan direktorat jenderal yang ada di bawah Departemen Perhubungan. Saat itu, saya sebagai wakil presiden dan ditugasi presiden saat itu, Gus Dur, untuk menangani konflik dan bencana alam," ungkapnya. Menurut Mega, saat mengunjungi daerah-daerah gempa, dirinya sudah memperingatkan tentang kemungkinan munculnya tsunami ini. "Pengalaman saya menangani gempa di Nabire, Flores, Poso, dan sebagainya, kalau ada gempa itu pasti ada saudaranya yang namanya tsunami. Waktu di Nabire, saya sudah saya ingatkan hal ini," ujarnya. Mengingat negara Indonesia adalah kepulauan, maka gempa dan tsunami ini sangat mungkin terjadi. "Dan sebenarnya ini bisa dideteksi dari awal. Analisa itu bukan dari ramalan, tapi dari deteksi," kata dia. Bencana Aceh, lanjut Mega, memang sangat memprihatinkan. "Bila warning systemnya berjalan baik, tentu tidak akan seperti ini. Saya sudah membaca dua tahun lalu, bahwa tsunami itu memang ada, ada karakteristik dan gejalanya," ungkap Mega.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































