Ketua Umum Golkar versi Munas Bali, Aburizal Bakrie (Ical) hadir dalam Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2014. Dalam sambutannya, Ical mengaku jeda sejenak dari dunia politik.
"Ini jeda bagi saya yang melegakan dari keterlibatan politik yang ruwet, mudah bercabang dan berubah dalam intensitas tinggi," kata Ical saat memberi sambutan PAB 2014 di Gedung Djakarta Theatre, Jakarta Pusat, Rabu (10/12/2014).
Ical menilai, Indonesia merupakan negara demokrasi yang baru. Proses pendewasaan demokrasi itu tentu penuh liku yang membingungkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proses yang terjadi penuh kabut dan munusuk ke hati. Jeda sejenak dari proses seperti itu dan bertemu dengan para ilmuwan adalah rahmat bagi kehidupan saya. Saya sadar hidup ini tidak melulu berurusan dengan politik, pemerintahan atau kekuasaan," jelas Ical.
"Politik itu ibarat oksigen, tidak perlu terlihat, namun bisa dirasakan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai ilmu pengetahuan. Dengan semua itu, manusia akan menjadi manusia yang utuh dan hakiki. Itu tujuannya Penghargaan Ahmad Bakrie ini diselenggarakan," tambah Ical.
Ada 6 anak bangsa berprestasi yang mendapat PAB 2014, yaitu Indrawati Gandjar (di bidang sains), I Gede Wenten (di bidang teknologi), Gunawan Indrayanto (di bidang kesehatan), Mundardjito (bidang pemikiran sosial), Khoirul Anwar (ilmuwan muda berprestasi) dan Emil Salim (pemikiran sosial).
Terkait politik, Ical memang tengah dalam sorotan terkait perubahan sikap politik mengenai Perppu Pilkada. Ical mendadak mendukung Perppu yang dikeluarkan pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhyono meski Munas IX di Bali merekomendasikan hal sebaliknya.
(jor/fdn)










































