"Nggak. Mungkin juga karena ada pengaruhnya munas yang putuskan itu," kata Hidayat lalu beringsut meninggalkan wartawan menuju mobilnya. Wawancara berlangsung di kantor DPP Golkar Jalan Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (10/12/2014).
Sebelumnya Hidayat menduga perubahan sikap Ical karena ada perjanjian antara KMP dengan PD untuk mendukung Perppu Pilkada. Perjanjian itu tentu tak bisa dinafikan begitu saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hidayat memaklumi perubahan sikap Ical yang semula menolak Perppu kini mendukung. Namun, hal itu tak terlepas dari kepentingan Partai Golkar. "Ya politik itu selalu dinamis, dan selalu cari sesuatu yang bisa cover kepentingan partai," ujarnya.
Entah terkait atau tidak, namun memang perubahan sikap Ical terjadi tak lama setelah SBY bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Pertemuan SBY-Jokowi berlangsung Senin (8/12) lalu, sedangkan Ical berkicau di twitter menyatakan dukungan untuk Perppu Pilkada Selasa (9/12) kemarin malam.
Jika PD, dan juga PAN, yang mendukung Perppu Pilkada menyeberang ke KIH, maka kekuatan KMP memang akan gembos. Ditambah PAN dan PD, kekuatan KIH di DPR akan menjadi 63%.
(bal/trq)











































