Meresahkannya Tawuran Pelajar di Mata Guru

Meresahkannya Tawuran Pelajar di Mata Guru

- detikNews
Rabu, 10 Des 2014 15:01 WIB
Meresahkannya Tawuran Pelajar di Mata Guru
Jakarta - Tawuran pelajar menjadi perhatian serius jajaran Polda Metro Jaya dan Pemkot Jakarta Selatan. Selain karena jumlah korban yang berjatuhan, provokasi pun dilancarkan melalui media sosial. Apa kata para guru terkait hal itu?

"Sangat meresahkan. Anda bisa bertanya leluasa soal penyebabnya ke keluarga harmonis. Lalu, Anda bertanya ke keluarga kurang harmonis. Susah dijawab," kata Kepala Sekolah SMA Budi Waluyo Jakarta di kantor Dinas Pendidikan DKI, Jakarta Selatan, Rabu (10/12/2014).

Waluyo mengaku siswa dari sekolah yang ia pimpin tak terlibat aksi tawuran manapun di Jakarta Selatan. Hal ini karena pihak sekolah melibatkan orangtua dalam sejumlah kegiatan siswa untuk memaksimalkan pengawasan dan bimbingan siswa sehingga tak terjerumus dalam aksi tawuran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita di sekolah itu selalu satu kegiatan melibatkan orangtua, seperti kepanitiaan untuk acara siswa juga melibatkan orangtua," ucap Waluyo.

‎Wakil Kesiswaan SMK Negeri 43 Jakarta, Nina Sumartini punya pandangan berbeda soal aksi tawuran pelajar. Menurutnya, tawuran pelajar saat ini sudah lebih terkoordinasi dan terencana.

"Pendapat saya, tawuran pelajar sekarang sudah seperti dikondisikan, yang kondisikan itu bisa lingkungan," ujar Nina di lokasi yang sama.

Nina menceritakan, sekolah tempat ia bekerja itu sudah lepas dari lingkaran tawuran pelajar sejak 6 tahun lalu. Hal ini bisa dilakukan karena sekolah menerapkan aturan tegas yakni sanksi poin, jika poin mencapai 100 maka si siswa akan dikeluarkan, hal ini tegas dilakukan.

"Jadi ketika ada anak kena narkoba itu poin 100, tawuran 100 poin, bullying 50 poin. Kita memang tegas dengan tata tertib," ucap Nina.

‎Guru bahasa Inggris itu menambahkan, selain aturan yang tegas, pihak sekolah menjalin komunikasi interaktif dengan wali murid atau orangtua. Walau begitu, Nina melihat aksi tawuran pelajar terjadi karena perhatian orangtua, masyarakat dan sekolah kepada si siswa minim.

"Lalu mereka mencari solusi sendiri di luar lingkungan. Kalau kami punya ruang lingkup untuk mereka mengapresiasikan bakat mereka, keinginan mereka. Jadi sekolah ramai terus," papar Nina.

Namun ada pula guru yang tak mau berkomentar soal aksi tawuran pelajar di Jakarta Selatan yang mulai meresahkan. Beberapa di antara mereka memilih untuk tidak menjawab dan berlalu.

"Kalau tawuran nanti deh, saya harus kembali ke sekolah," kata seorang guru wanita sambil berjalan menjauh.



(vid/fjp)


Berita Terkait