Pihak kepolisian mengatakan, kini para pelajar berkoordinasi untuk melakukan aksi tawuran melalui media sosial. Mereka menentulkan sasaran, jumlah peserta dan lokasi melalui berbagai macam media sosial Facebook, Twitter dan semacamnya.
"โTawuran tidak sederhana lagi, sudah melalui jejaring sosial. Artinya, sudah tidak terpikirkan korban akan secara fisik cacat seumur hidup. Peran serta kita semua termasuk orangtua bersama sekolah sangat penting," kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Wahyu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu di lokasi yang sama, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto menegaskan, tawuran bukan lagi ranah kenakalan remaja. Sehingga penindakannya juga menggunakan hukum pidana.
"Terus kita masih anggap kenakalan remaja? Padahal sudah masuk kategori kejahatan remaja. Bayangkan kalau saudara kita, adik kita, siapa yang peduli? Manusia makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, butuh teman, pergaulan dan esksistensi," ujar Rikwanto.
Dalam kesempatan, beberapa guru menyampaikan opininya tentang pihak yang paling bertanggungjawab dengan tawuran pelajar. Salah satu tenaga pendidik menyatakan hal itu adalah tanggung jawab lingkungan, guru, siswa, orangtua dan masyarakat.
"โYang selalu ditanya itu sekolahnya di mana, tapi tidak pernah ditanya anaknya siapa," kata seorang guru wanita yang tidak menyebutkan namanya dan asal sekolahnya itu.
(vid/mok)











































