Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan TNI AL baru saja menenggelamkan beberapa kapal nelayan asing pencuri ikan. Ironisnya Raja Ampat-Papua, kawasan yang terumbu karangnya dilindungi, menghadapi ancaman pengebom ikan justru dari kapal nelayan lokal!
"Tapi yang paling penting untuk saya di Raja Ampat, sangat marak dengan pengeboman yang dilakukan oleh orang Indonesia sendiri," kata Ketua Dewan Adat Suku Maya, Kris Thebu. Suku Maya adalah suku utama dan asli di Raja Ampat.
Hal itu disampaikan Kris saat berbincang dengan detikcom usai acara Diskusi dan Pemutaran Film βGuardians of Raja Ampatβ di @america, Pacific Place, Kawasan SCBD, Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (9/12/2014) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari luar Raja Ampat, kebanyakan yang kita dapat orang yang tinggal di Indonesia itu, maaf ya, itu orang Buton, yang datang
dan tinggal di Sorong, mereka itu yang masuk Raja Ampat untuk terus melakukan pengeboman di Raja Ampat. Mereka terus melakukan pengeboman, sehingga kami melihat bahwa ikan yang dimakan di Kota Sorong atau Kabupaten Sorong itu ikan bom, hasil pengeboman oleh orang-orang tadi. Ini yang menjadi tantangan besar dan belum bisa selesaikan," jelas Kris.
Untuk frekuensinya, Kris bahkan mengatakan bahwa kapal lokal pengebom ikan ini lebih banyak daripada kapal asing yang mencuri ikan. Katakan untuk satu bulan, kapal lokal bisa kedapatan beraksi tiap hari, sedangkan kapal asing pencuri ikan belum tentu ada.
"Wah.. itu hampir setiap hari. Di daerah-daerah yang tidak dijangkau patroli itu orang-orang pengebom ada itu. Ya kalau kita hitung-hitung di Raja Ampat dari luar (kapal asing) itu tidak ada, itu sekali-sekali, bisa saja 3 bulan baru ada, 4 bulan baru ada," jelas Kris.
Kris sendiri sudah menjadi inisiator Sistem Patroli Pengawasan Laut sejak tahun 2008 yang melibatkan warga dari berbagai suku di Raja Ampat. Namun, warga 'hanya' memiliki 6 kapal speed boat berkekuatan 42 PK hasil sumbangan LSM itu tak bisa berbuat apa-apa jika melakukan patroli.
"Mesin kapal mereka lebih kuat. Terus bawa bom, bisa berbahaya, kecuali ada petugas polisi yang bawa senjata maka mereka bisa dicegat.
Bom ikan tapi kan bisa dipakai untuk mengancam patroli keliling," imbuhnya.
Dia berharap KKP yang dikomandani Susi Pudjiastuti beserta TNI AL dan Polisi Air melakukan penindakan bagi para nelayan lokal pengebom ikan.
"Jadi kami sebagai orang Raja Ampat berharap kepada pemerintah pusat, jangan tenggelamkan kapal luar asing saja. Tapi bagaimana juga memberantas pengebom ikan. Harapan kami, kalau Menteri Susi, mari kita melihat bahwa ada musuh dari dalam juga yang sangat berbahaya. Mari kita berantas ini dengan membuat aturankah atau pemeriksaan atau bagaimana caranya apapun sehingga tidak boleh ada pengeboman lagi," pintanya
(nwk/nrl)











































