Juru Kunci Tobat, Tak Lagi Mau Urus Makam Roro Mendut di Yogya

- detikNews
Senin, 08 Des 2014 10:17 WIB
Yogyakarta - Menengok kondisi makam Roro Mendut di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang tak terawat. Seorang pria tua yang dikenal sebagai juru kunci makam, kini tak lagi pernah menyambangi makam itu.

Pria sepuh itu bernama ‎Bahrun. Saat detikcom mendatangi rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari makam, pria tersebut mengaku tak lagi bisa bercerita soal makam itu.

"Saya tidak bisa memberi cerita apa-apa soal makam itu," kata kakek yang saat itu mengenakan peci.

Dia mengaku sudah didatangi oleh banyak orang termasuk dari sejumlah kampus untuk kepentingan penelitian. Tak hanya itu, beberapa peziarah juga mendatanginya untuk minta diantarkan ke makam Roro Mendut.

"Tapi kecewa semuanya, saya nggak mau. Lebih baik sekarang kita melakukan dan memikirkan apa yang ada saja," ujarnya dengan bahasa Jawa.

Setelah dikroscek ke para tetangganya, Eko, Bahrun memang menjadi juru kunci terakhir makam Roro Mendut. Namun setelah bencana gempa bumi pada 2006 dan setelah Bahrun naik haji, pria tua itu tak mau lagi berhubungan dengan apapun yang berkaitan dengan makam itu.

"Setelah gempa, lalu naik haji, sudah nggak mau ngurus lagi. Kan dari bapaknya (Bahrun) juga juru kunci," kata Eko.

Sehingga sekarang para peziarah akan datang langsung ke makam tanpa ditemani juru kunci. "Ya masih saja ada yang datang. Tapi langsung ke makam sendiri," imbuhnya.

Mengambil sikap yang sama, warga sekitar juga memilih untuk tidak memperbaiki bangunan makam yang saat ini usang dan tak terawat. Warga khawatir jika nantinya lokasi makam diperbaiki, maka peziarah akan semakin banyak datang.

‎Eko menceritakan bahwa memang peziarah yang datang ke makam itu semuanya berasal dari luar kota. Bahkan pernah suatu kali datang berombongan peziarah berjumlah sekitar 50 orang.

Pria yang tinggal sejauh 50 meter dari makam ini mengaku, salah satu ritual yang dilakukan para peziarah di makam itu adalah ritual seks. Ritual ini, menurut keterangan Eko, harus dilakukan oleh pasangan yang bukan suami-istri.

‎"Tapi mboten kaliyan garwane nggih (Tapi bukan dengan istri atau suaminya, ya),"‎ kata Eko.

(sip/ndr)