Kamis Malam, Puncak Arus Mudik ke Madura
Kamis, 20 Jan 2005 18:00 WIB
Surabaya - Bagi warga Madura, merayakan Idul Adha di kampung halaman hukumnya wajib. Momen itu dimanfaatkan untuk saling silaturahmi dengan sanak keluarga yang pulang dari berbagai kota perantauan di pelosok nusantara. H-1 Idul Adha, Kamis (20/1/2005), dermaga penyeberangan Ujung mengalami ledakan jumlah penumpang yang akan menyeberang ke Madura. Pantauan detikcom, meski ada 4 dermaga yang dioperasikan, namun semuanya sudah dijejali pemudik yang sejak pagi hari telah datang secara bergelombang. Selain ada yang menumpang angkutan umum, tidak sedikit warga Madura yang membawa kendaraan motor roda dua maupun roda empat miliknya.Tercatat, dibanding H-2, terjadi lonjakan hampir 150 %, baik penumpang maupun jumlah kendaraan bermotor yang menyeberang dengan 15 kapal feri yang telah disediakan PT ASDP (Persero). Data yang dihimpun, jumlah penumpang mencapai lebih 50 ribu jiwa. Sedangkan kendaraan roda dua sebanyak 15 ribu dan roda empat sebanyak 4 ribu. Ledakan penumpang itu sangat berbeda dengan data di hari-hari biasa non liburan. Hari biasa jumlah penumpang yang menyeberang berkisar 12.000 - 15.000 jiwa dan kendaraan roda dua maupun empat sebesar 2.000-2.500 perharinya. "Kami perkirakan kamis malam nanti puncaknya, kerena mereka besok pagi sudah harus menunaikan ibadah salat Id di kampung halamannya masing-masing. Tapi kami tetap melakukan antisipasi agar pelayanan penumpang tidak terganggu," jelas Wildan Jajuli, Manajer Operasional PT ASDP (Persero) Cabang Surabaya kepada wartawan, Kamis(20/1/2005) di dermaga Ujung, Surabaya.Menurut dia, kepadatan penumpang yang sama akan terjadi pada waktu arus balik dari Madura. "Karena Senin mereka harus kembali melakukan aktivitasnya, maka kami perkirakan hari Minggu akan terjadi lonjakan arus balik dari dermaga Kamal Madura,"prediksinya.Salah seorang pemudik yang ditemui detikcom menjelaskan, hari raya Idul Adha adalah hari raya Haji, yang merupakan waktu untuk berkumpul bersama sanak kerabat sekaligus mendoakan keluarga yang menunaikan ibadah Haji. "Bagi kita sebuah kewajiban untuk pulang jika Idul Adha. Bagaimana pun caranya kita tetap pulang ke Madura," kata dia. Biasanya, kata dia, bila ada salah satu keluarga yang tidak pulang karena tidak punya uang untuk biaya transportasi, maka keluarga yang lainnya akan menanggungnya. "Yang penting harus kumpul dikampung," kata M Hamzah salah satu warga sampang Madura yang merantau di Jakarta sebagai penjual mie ayam itu.
(asy/)











































