"Jadi saya sudah bicara dengan Menlu Korsel kemudian kita dari Kemlu juga sudah berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri Rusia. Intinya, memohon diberi bantuan untuk mempercepat evakuasi ABK yang ada di kapal dan kerjasamanya sangat baik," ujar Retno.
Hal ini disampaikannya di Gedung KPK, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (4/12/2014). Kemlu juga, lanjut Retno, sudah mengirim tim ke lapangan untuk memantau proses evakuasi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Sejauh ini total jenazah yang ditemukan) WNI ada 7 orang kemudian ditambah dua orang lagi kalau nggak salah jadi ada 9 jenazah yang ditemukan," sambungnya.
Sebagai bentuk belasungkawanya, Retno menerjunkan anggota timnya untuk menghubungi semua pihak keluarga ABK di Kapal Oryong.
"Hari ini dari Kemlu dan juga tim koordinasi, kita menurunkan tim untuk menghubungi semua keluarga. Jadi sore ini kita mungkin akan mendapatkan laporan bagaimana kunjungan kita ke keluarga sekaligus juga melibatkan tim dari Polri untuk mengambil ante mortem dari keluarga," tutup mantan Dubes Indonesia untuk Belanda tersebut.
Dari informasi yang dihimpun, ada 35 orang ABK yang menjadi korban tenggelamnya kapal penangkap ikan itu. Menurut data BNP2TKI, mereka yang berasal dari Tegal 11 orang, Brebes 4 orang, Indramayu 4 orang, Seram (Maluku) 3 orang, Jakarta Timur 2 orang, Jakarta Utara 2 orang, Cirebon 2 orang, Sorong (Papua) 1 orang, Pemalang 1 orang, Bangkalan 1 orang, Bandung 1 orang, Tasikmalaya 1 orang, Slayar 1 orang, Ambon 1 orang, dan Maluku Barat Daya 1 orang.
Selanjutnya, mereka yang dari Tegal 10 orang yakni Khoirul Umam, Asep Bahrudin, Purwanto, Heru setiawan, Warno, Tarwo Rakim, Ratmono, Mujahidin, Nur kholis, dan Mohamad Idris. Kemudian dari Brebes ada 5 orang yakni Wanto (KCM), Ahmad Khamyanto, Abdul Khalim, Abdullah, dan Wanto (MSC).
Dari Indramayu ada 4 orang yaitu Naryanto Bin Wastara, Jumadi, Eko darmanto, dan Tardi. Kemudian Jakarta Timur ada 2 orang yaitu Rigo Sugi Martono dan Harzono, Jakarta Utara 2 orang yaitu Muhtar Mokodompit dan Abdul Manaf, Cirebon 2 orang yaitu Heriyanto dan Dedek Iksani, Ambon 2 orang yaitu Gaspar Jantje Tomasila dan Jhondriy Andries.
Kemudian masing-masing 1 orang yakni dari Seram Bagian Barat Albert Talapesi, Sorong Papua Teguh Hariyono, Pemalang Jateng Barjo, dari Bangkalan Muhamad Hasan, dari Bandung Atep Roni, dari Tasikmalaya Dede Roni Rusriana, dari Slayar Syariffudin, dan dari Maluku Barat Daya Cornelius Edison Lelapary.
Kapal Oryong 501 sendiri dibuat di Spanyol pada November 1978 dan selanjutnya pada tahun 2010 kapal tersebut diserahterimakan kepada Sajo Industries untuk menggantikan kapal yang lebih tua. Setelah Februari 2014, kapal Oryong 501 menjadi milik Korea. Sebelumnya, kapal ini memiliki dua kebangsaan dengan perjanjian codeshare yaitu Korea dan Rusia.
(aws/mad)











































