Robby Klaim Di-SMS Soal Soliditas Samad Cs, KPK: Kalau Memang Ada, Buka Saja

Robby Klaim Di-SMS Soal Soliditas Samad Cs, KPK: Kalau Memang Ada, Buka Saja

- detikNews
Kamis, 04 Des 2014 15:35 WIB
Robby Klaim Di-SMS Soal Soliditas Samad Cs, KPK: Kalau Memang Ada, Buka Saja
Jakarta - Calon pimpinan KPK Robby Arya Brata menyebut bahwa dirinya mendapat pesan singkat dari internal KPK yang menyebut bahwa Abraham Samad Cs tidak kompak. Menanggapi pernyataan Robby, pihak KPK menantang agar mantan staf Setneg itu membuka isi SMS jika memang pesan itu benar adanya.

"Ini kan zaman keterbukaan, kalau meman‎g SMS itu ada ya dibuka saja. Siapa yang mengirim SMS itu, apa benar itu orang KPK?" kata Jubir KPK Johan Budi saat ditemui di kantornya, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (4/12/2014).

Johan menjelaskan, bahwa selama ini kelima pimpinan KPK bekerja sangat solid. Apalagi sudah ada statement dari pimpinan yang tidak ingin ada orang baru karena khawatir ritme kerja dan kekompakan akan terganggu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama ini yang saya tahu pimpinan solid. Kalau ada perbedaan pendapat kan hal yang biasa," jelas Johan.

"Robby kan juga bukan orang KPK, darimana dia bisa menyimpulkan ada yang tidak solid?" imbuh Johan.

Sebelumnya, di hadapan para anggota komisi III DPR, Robby menyebut telah mendapat SMS dari seorang karyawan KPK. Robby mengklaim bahwa pimpinan KPK tidak solid.

"Berkaca dari isu itu, klaim saya pikir soliditas pimpinan meragukan, ada masalah internal," kata Robby.

Johan juga keberatan atas pernyataan Robby yang menyebut upaya pencegahan KPK masih lemah. Pihak KPK tak terima dengan tudingan Robby. Bahkan, Deputi Pencegahan KPK Johan Budi menyarankan agar Robby tidak mengomentari hal yang dia belum tahu.

"Saya menyarankan fokus dulu pada fit and propert test, jangan komentar-komentar yang dia belum tahu," kata Johan.

Johan mempertanyakan maksud pernyataan Robby yang menyebut upaya pencegahan KPK lemah. Padahal, selama ini KPK telah berhasil menyelamatkan puluhan triliun uang negara dari sektor pencegahan, jauh lebih besar dari sektor penindakan.

"Makanya, dia kesimpulan darimana kalau pencegahan lemah. Definisi pencegahan lemah sepeti apa? Jangan-jangan karena ketidaktahuan dia‎," tegas Johan.

(kha/fjp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads