Wacana Wapres Jusuf Kalla untuk mengurangi jam kerja pegawai wanita yang memiliki anak menuai pro dan kontra. Sebagian pegawai perempuan menyambut baik hal tersebut, ada juga yang tak setuju dan mengusulkan ide lain.
Dwi Siswati, seorang PNS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ini sangat setuju dengan ide JK. Bahkan dia siap jika pengurangan jam kerja ini akan berdampak pada berkurangnya jumlah tunjangan.
"Tidak masalah bagi saya apabila kebijakan ini nantinya akan berdampak kepada pengurangan tunjangan atau apapun itu sebagai konsekuensi dari kebijakan ini," kata Dwi dalam surat elektronik yang diterima detikcom, Kamis (4/12/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal sama diungkapkan oleh Nunu, ibu yang memiliki bayi 6 bulan ini rela penghasilannya berkurang asal bisa memiliki waktu lebih dengan anak.
"Saya sangat setuju, bahkan saya sanggup jika harus dipotong gaji asalkan ada waktu lebih untuk anak saya. Hal ini lebih baik karena saat ini saya dalam posisi dilematis antara resign atau tetap bekerja. Semoga bisa direalisasikan," ujarnya.
Sama halnya dengan Nunu, Ega juga setuju dengan usulan ini. Ega mengaku sedih karena dia harus berangkat kerja pukul 05.15 WIB dan sampai di rumah pukul 19.00 WIB sehingga hanya memiliki waktu sekitar 1,5 jam untuk anaknya.
"Untuk berhenti bekerja masih belum bisa karena perekonomian kami. Seandainya wacana ini dapat direalisasikan akan sangat membahagiakan, karena waktu untuk merawat anak dan bermain dengan mereka menjadi lebih banyak," ujarnya.
Pendapat lain dilontarkan oleh Esa Isryada, dia lebih setuju dengan memindahkan para wanita ke tempat kerja yang lebih dekat dengan rumah. PNS di BUMN ini saat ini harus bekerja jauh dari keluarga karena tugas dinas.
"Saya hanya bisa ketemu keluarga saat weekend. Saat ini saya memiliki seorang putri berusia 1,5 tahun dan sedang mengandung 2,5 bulan. Asal bisa bertemu dengan anak setiap hari, itu cukup buat saya," ucapnya.
Dwie, ibu 3 anak ini awalnya setuju dengan pengurangan jam kerja wanita. Namun setelah melihat banyak perempuan tak setuju dengan alasan yang cukup masuk akal, Dwie menyarankan agar jam kerja diubah tanpa ada pengurangan.
"Saya usul jam kerja bagi wanita pukul 08.00 - 16.00 WIB," sarannya.
(slm/ndr)











































