Kemenangan Ical Jadi Akhir atau Babak Baru Perpecahan Golkar?

Munas Golkar

Kemenangan Ical Jadi Akhir atau Babak Baru Perpecahan Golkar?

- detikNews
Selasa, 02 Des 2014 10:54 WIB
Kemenangan Ical Jadi Akhir atau Babak Baru Perpecahan Golkar?
Jakarta - Ketua OC Munas Golkar Ahmadi Noor Supit memastikan Aburizal Bakrie bakal menang secara aklamasi sebagai ketua umum. Apakah kemenangan Ical akan mengakhiri perpecahan internal partai beringin, atau sebaliknya?

"Dalam tata tertib kan sudah jelas, apabila hanya ada satu calon ketua umum saja maka dinyatakan terpilih secara aklamasi," ujar Supit di Westin Hotel Nusa Dua, Badung, Bali, Senin (1/12) kemarin.

Ical sendiri sejauh ini mengaku sudah mengantungi suara dari mayoritas DPD I dan DPD II se-Indonesia. "Setahu saya dari tadi sampai sekarang sudah 248 DPD, belum termasuk NTT. Saya tidak tahu yang lain, belum ada suaranya," kata Ical memaparkan dukungan kepada dirinya di sela-sela pandangan umum DPD I dan DPD II Golkar semalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Munas Golkar pun seolah selesai lebih cepat. Semua skenario besar pemenangan Ical yang disusun Ketua SC Nurdin Halid pun sepertinya sesuai rencana, tapi ternyata kemenangan ketum incumbent yang kemungkinan besar secara aklamasi ini justru menambah panjang perpecahan di internal Golkar.

Presidium Penyelamat Golkar yang mendapatkan bukti adanya skenario besar pemenangan Ical pun mengecam pelaksanaan Munas Golkar yang seolah diselenggarakan hanya untuk melanggengkan Ical. Presidium pun bakal melaporkan kasus ini ke Kemenkum HAM.

"Presidium Tim Penyelamat yang sudah terbentuk pada rapat pleno DPP tanggal 25 November yang lalu akan melaporkannya pada Kemenkum HAM sebagai bukti kejahatan skenario politik, yang melanggar AD/ART Partai," kata anggota Presidium Penyelamat Partai Golkar, Agun Gunandjar S, kepda detikcom, Selasa (2/12/2014).

Presidium tetap akan menggelar Munas tandingan pada Januari 2015 mendatang. Jakarta dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan Munas tandingan. Cerita perpecahan di internal Golkar pun semakin panjang dan tak tahu apa episode penutupnya. Lalu Golkar mana yang bakal diterima Kemenkum HAM?

(van/nrl)


Berita Terkait