Ari misalnya, warga di Tarempa, Ibukota kepulauan Anambas, tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya tatkala kapal motor Bukit Raya yang mereka nantikan telat. Baling-baling kapal berkapasitas 1.000 penumpang itu tak bisa bekerja optimal lantaran ditempeli hewan laut sejenis kerang.
Alhasil kapal pun delay hingga 14 jam. Kapal itu seharusnya berangkat dari Pelabuhan Kijang, Tanjung Pinang ke Tarempa, Sabtu (29/11/2014) pukul 02.00 WIB. Namun karena ada masalah itu jadinya berangkat pukul 16.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Protes Ari makin bertambah lantaran dia tak dapat pemberitahuan soal kondisi kapal. Akibatnya dia dan istri serta anaknya yang berumur 3 tahun pun sempat menunggu belasan jam di pelabuhan tanpa ada kepastian.
"Masalah kapal enggak disampaikan di ruang tunggu (pelabuhan)," kata dia di deck 3 kelas ekonomi kapal rute Tanjung Priok-Surabaya itu. Dia menyayangkan Pelni yang kurang berkomunikasi dengan pihak pelabuhan sehingga penumpang jadi terlantar.
Dia juga mengadukan soal fasilitas di kamar ekonomi yakni minimnya kebersihan dan toilet ekonomi yang tak layak. Menurutnya, hari ini suasana dalam kapal jauh lebih bersih dan teratur.
Dirut Pelni, Sulistyo Wimbo Hardjito, juga sempat menampung protes dan masukan dari penumpang saat berlayar dengan KM Bukit Raya dari Tanjung Pinang-Kepulauan Anambas, Sabtu-Minggu (29-30/11/2014).
“Pelayanannya harus dibenahi, masalah kebersihan, selama ini sangat jorok dan banyak sampah apalagi di ekonomi. Hari ini lumayan ada perbaikan soal kebersihan dan makanan, tapi jangan hanya seremonial karena ada turun dari Pelni pusat. Kita harapkan bisa terus rutin begitu,” kata Darfit saat berbincang dengan Wimbo.
Dia juga menceritakan soal banyaknya uang pungli, seperti jual beli kasur yang seharusnya jadi fasilitas dari kapal. Begitu juga dengan jadwal kapal yang sering molor tanpa pemberitahuan kepada penumpang.
“Kalau mau jadikan ini lebih baik, soal jadwal harus lebih pasti. Sekarang kan sudah ada teknologi. Masa kita beli tiket yang harusnya jam 2 pagi tapi berangkatnya jadi jam 4 sore. Kalau yang bawa anak bagaimana. Harusnya kita diinformasikan, paling tidak ke agen tempat kita beli tiket,” dia menumpahkan keluh kesahnya.
Cukup lama Wimbo dan warga berbincang. Menurut mantan Dirut Komersial PT KAI itu, nantinya KM Bukit Raya akan direnovasi dan ditingkatkan mutu pelayanannya. Kapal ini rencananya akan ditawarkan juga ke perusahaan sebagai lokasi rapat dan akan dijadikan little cruise sebagai kapal terapung di lokasi wisata kepulauan Anambas.
Mendengar info itu, beberapa warga cukup kaget namun mereka mendukung asalkan jadwalnya bisa lebih on time. “Jadwal itu sangat dipengaruhi cuaca, hujan itu sulit. Yang bisa saya perbaiki adalah soal pelayanannya. Saya enggak bisa janjikan kalau soal jadwalnya. Ini masih banyak kekurangan yang harus kita perbaiki. Ini akan kelihatan bedanya mulai Mei tahun depan,” janji Wimbo.
(ros/gah)











































