Takut Tsunami, Warga Maluku Tenggara Masih Mengungsi
Kamis, 20 Jan 2005 00:00 WIB
Ambon -
Hingga kini warga Maluku Tenggara masih mengungsi ke hutan karena takut akan ancaman gelombang tsunami. Warga umumnya mengungsi ke hutan-hutan dengan ketinggian rata-rata minimal 40 meter di atas permukaan laut. Tindakan penyelamatan diri ini marak dilakukan oleh warga Maluku Tenggara yang tinggal di perkampungan pesisir pantai menyusul adanya imbauan dari Bupati, Herman Adrian Koedubun, melalui stasiun radio lokal awal Januari lalu. Menurut warga, yang mereka dengar adalah bupati mengimbau agar warga masyarakat Maluku Tenggara (Malra) berhati-hati dan selalu waspada atas kemungkinan datangnya gelombang tsunami di Malra. Kepala Desa Ngursoin, Pacar Lusubun, yang detikcom di kediamannya, Rabu (19/1/2005), menyatakan di desanya orang belum mengungsi. "Tapi warga sekampung telah bersiap-siap pindah ke hutan. Bahkan ada yang sudah menuju hutan" ujarnya.Lusubun mengatakan, beberapa lokasi hutan yang telah ditinggali warga yaitu wilayah Fatkor dan Turuin. Keduanya merupakan lokasi hutan dengan ketinggi an rata-rata daratan mencapai minimal 40 meter di atas permukaan laut. Jarak kedua lokasi hutan tersebut dengan perkampungan warga sekitar tiga kilometer. Untuk masuk dalam lokasi hutan itu, harus melewati semak belukar dan bebatuan yang menghadang. Maklum, kedua lokasi hutan itu sudah lama tidak terjamah oleh manusia.Ditempat terpisah, beberapa warga desa Elaar Let, mengaku orang sekampungnya sudah tidur di hutan. Meskipun tidak menyebut nama, salah satu warga menuturkan, memasuki Minggu ketiga Januari ini, sejumlah warga telah menginap di hutan. "Mulai Seminggu lalu warga sudah mulai tidur di hutan. Malam kedua dari itu hanya delapan kepala keluarga (KK) yang tidur di kampung. Sisanya sekitar 50 KK, semuanya tidur di hutan," ujar warga Anes Notanubun.Anwar Renwarin, menuturkan, warga desa Ohietel juga mulai mengungsikan para orang tua, anak-anak dan harta benda mereka, saat malam hari ke lokasi yang letaknya pada ketinggian. "Di kampung baru Ohietel, ada tempat yang namanya puncak. Di sana mereka ditampung," kata mantan Kades Ohietel itu.Selain itu semua warga yang kuat secara fisik bertugas memantau kondisi alam dikampung. "Warga sepakat, kalau ada tanda bahaya, kodenya toki tiang listrik," terang dia.Lokasi RawanTokoh masyarakat Malra Amin Nasrun Renur, mengakui secara geografis Kei besar Utara Timur adalah daerah rawan gempa dan tsunami. Pasalnya, sesuai peta geologi, zona subdiksi (jalur tumbuk lempeng) yang diterbitkan BMG, Kei Besar Utara Timur termasuk lokasi rawan selain Sumatera, Palung Sunda dan lainya.Senada dengannya, Asisten II Setda Maluku Tenggara, Ali Rahayaan, mengatakan, lokasi paling rawan yaitu di pulau Kei Besar, khususnya Kei Besar Utara Timur, ini meliputi perkampungan kawasan Banda Eli dan lainnya.Ia menambahkan, kerawanan yang sama juga bisa terjadi di desa-desa sepanjang pesisir Timur pulau Kei Kecil. "Perkampungan disini, khan menghadap lautan bebas. Lagi pula diseputaran daerah itu khan tidak ada pegunungan, semuanya dataran rendah," gambarnya.Rahayaan memprediksi, kota Tual dan beberapa perkampungan di sekitar kota masih aman, termasuk pulau Dullah dan beberap desa terdekat. Alasannya, daerah-daerah ini diapit oleh berbagai pulau-pulau kecil tanpa penghuni. Sementara tokoh masyarakat Amin Nasrun Renur mengimbau Pemda tidak boleh sekedar hanya membuat himbauan. Tapi juga membuat peta rawan bencana. Warga juga harus tahu lokasi mana yang rawan dan mana yang tidak.Pemda harus menentukan kapan orang harus mengungsi, kalau tidak, situasi akan terus kacau seperti ini.
(gtp/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































