Penderita Diare di Surabaya Naik
Rabu, 19 Jan 2005 19:39 WIB
Surabaya - Meski belum berstatus wabah, Dinas Kesehatan Pemkot Surabaya meminta kepada masyarakat untuk mewaspadai penyakit diare dengan melakukan pencegahan sedini mungkin. Karena berdasarkan data jumlah kasus penderita diare di sejumlah rumah sakit cenderung ada peningkatan.Hal tersebut disampaikan Esti Martina Kasubdin Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Surabaya saat mendampingi istri walikota Surabaya Ny Dyah Katarina menjenguk pasien anak-anak yang terjangkit diare di RSUD dr Soewandhi, Tambahrejo,Surabaya,Rabu(19/1/2004). "Meski banyak dijumpai anak-anak yang menderita diare di rumah sakit namun setelah kita analisis itu belum bisa dikatakan sebagai wabah. Karena jumlah peningkatan kasus tidak lebih besar dari kurun waktu sebelumnya,"jelasnya. Ia mengakui dari sejumlah pasien khususnya anak-anak yang dirawat di sejumlah rumah sakit ada yang telah meninggal dunia sebanyak 3 jiwa. Tetapi itupun, kata dia, penyebab utamanya bukan karena penyakit diare saja. "Mereka yang meninggal itu bukan semata-mata diare melainkan karena penyakitnya campur dengan yang lainnya. Misalnya karena radar otak, kurang gizi dan paru-paru,"tegasnya.Data yang diperolehnya dari RSUD Dr Sutomo menyebutkan selama periode 1 - 18 Januari 2005 tercatat 67 penderita diare murni dari 132 kasus yang ada."Jadi begini pasien yang datang didiagnosa memang gejala diare namun belum tentu setelah keluar RS diagnosanya murni diare melainkan penyakit lainnya.Ini yang perlu disampaikan ke masyarakat sehingga tidak terjadi keresahan,"tukasnya.Sementara itu, hingga 18 Januari jumlah pasien penderita diare mencapai 131 orang sebagian besar mereka adalah anak-anak. Sedang yang masih menjalani rawat inap di RSUD Dr Soewandhi tercatat 28 anak. "Sekali lagi jumlah itu tidak murni semuanya diare. melainkan campuran penyakitnya ada yang diare bercampur types ataupun ispa,"jelas Dr Elyma Yoga Kepala RSUD dr Soewandhi saat ditemui wartawan, Rabu(19/1/2005). Elyma mengakui memang ada kecenderungan peningkatan jumlah pasien yang gejalanya diare datang ke rumah sakitnya. "Setiap hari antara 3-4 yang masuk. Namun juga ada yang keluar. Jadi sampai sekarang yang dirawat sekitar 28 anak-anak,"jelasnya. Akibat naiknya jumlah pasien diare itu membuat pihak rumah sakit kalang kabut karena terbatasnya tempat tidur. "Terpaksa tempat tidur yang sebenarnya bukan untuk penderita diare kita gunakan. Misalnya ruang anak itu ada 22 tempat tidur 11 diantaranya khusus diare. Sekarang semuanya ditempati penderita diare. Bahkan lantai 2 juga sudah ditempati juga. Nanti kalau jumlah pasien semakin membengkak maka solusinya kita merujuk mereka ke RSUD dr Sutomo atau jka keluarga orang mampu kita sarankankan masuk kelas 2,"paparnya.Dalam kesempatan itu, Dyah Katarina berharap kepada semua lapisan masyarakat untuk saling menjaga kebersihan dilingkungannya masing-masing agar terhindar dari penyakit diare. " Khususnya yang memiliki putera balita harus lebih waspada dan hati-hati. Karena tanpa disengaja mungkin saja makanan ataupunbenda-benda yang dibuat mainan itu ada kumannya,"pinta istri Walikota Surabaya Bambang DH ini
(jon/)











































