Cegah Anthrax, Hewan Kurban di Yogyakarta Diperiksa
Rabu, 19 Jan 2005 18:21 WIB
Yogyakarta - Sejumlah pasar hewan di Yogyakarta diperiksa mantri hewan. Tujuannya, mencegah adanya hewan kurban yang terkena virus anthrax atau penyakit lainnya namun diperjualbelikan untuk kurban.Hal itu dikatakan oleh Kepala Bidang Peternakan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Suwandi Aziz kepada wartawan di kantor di Beran, Rabu (19/1/2005)."Sampai sekarang belum ada hewan kurban yang diperjualbelikan yang terkena anthrax, tapi kita akan memantau terus hingga Sabtu besok," katanya.Untuk memantaunya, kata Suwandi, pihaknya saat ini telah menurunkan sejumlah petugas/mantri hewan untuk memeriksa hewan ternak kurban yang dijual di pasar-pasar hewan maupun pasar hewan tiban yang ada dipinggir jalan di wilayah Sleman. Pasar-pasar hewan yang telah didatangi petugas di antaranya pasar hewan di Prambanan, Tempel, Moyudan, Godean dll."Hewan-hewan kurban yang berasal dari luar kota seperti Klaten, Magelang, Temanggung, Kulon Progo atau Gunung Kidul terus kita pantau peredarannya terutama yang dijual di pasar-pasar tiban," katanya.Menurut Suwandi, tidak hanya anthrax saja yang perlu diwaspadai tetapi juga penyakit lainnya seperti cacing hati, brusolis (keguguran), scabies/kudis, demam panas dingin dan stres. Kalau ada hewan ternak baik sapi, domba atau kambing yang terkena penyakit cacing hati, hati tersebut tidak boleh dimakan."Kami meminta hati hewan yang terkena penyakit harus dibuang dengan cara dikuburkan dan sekali lagi jangan dimakan," tegas Suwandi.Pelatihan Merobohkan HewanSelain itu, katanya, petugas Pos Kesehatan Hewan (Poskeswan) yang ada di Kecamatan Moyudan, Seyegan, Godean, Prambanan, Tempel, Sleman, Pakem dan Ngemplak dapat memberikan pelatihan secara gratis dan singkat cara merobohkan sebelum disembelih. Buku mengenai petunjuk teknis pemilihan dan penyembelihan yang disebarkan kepada para pengurus takmir masjid.Prinsip penyembelihannya adalah cepat merobohkan sehingga hewan tidak sakit dan menggunakan pisau yang tajam. Bila darah cepat keluar maka kualitas daging juga akan baik," katanya.Hal senada juga dikatakan oleh Kasubdin Kehewanan Dinas Pertanian dan Kehewanan Kota Yogyakarta, Machmud Asvan bahwa sampai hari ini belum ditemukan dan ada tanda-tanda hewan kurban yang diperjualbelikan yang terkena anthrax."Belum kita temukan yang terkena anthrax atau penyakit lainnya seperti cacing hati dan yang telah kita pantau kebanyakan hewankurban yang sehat kondisinya," katanya.Menurut Machmud, sebagian besar hewan kurban terutama sapi yangdiperjualbelikan di kota Yogyakarta seperti di Pasar Kuncen sebagian besar didatangkan dari daerah Pakel Gunung Kidul tetapi adapula dari Bantul, Kulon Progo dan Magelang."Sapi yang didatangkan dari Pakel merupakan sapi yang digemukkan dan tidak dikeluh atau dicocok hidungnya sehingga jauh lebih sehat," katanya.
(nrl/)











































