Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri kembali melakukan inspeksi mendadak (sidak). Kali ini giliran kantor Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang didatangi Hanif dan rombongan.
Hanif berangkat dari kantornya di Jl Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (27/11/2014) dengan menumpang mobil Toyota Crown Royal Saloon hitam B 1330 RFS dengan diiringi 10 mobil di belakangnya.
Sampai di kantor BNSP di Jl MT Haryono, Jakarta Selatan, sekitar pukul 13.00 WIB, Hanif langsung menemui Kasubag Fasilitas Lisensi Lembaga Sertifikasi Profesi, Darma. Hanif bertanya soal sertifikasi untuk calon TKI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Darma menjawab, khusus untuk TKI ada 7 Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang mengeluarkan sertifikasi. Dalam setahun ada sekitar 300 ribu sertifikasi untuk calon TKI. Sementara untuk pekerja formal ada 113 LSP yang mengeluarkan 200 ribu sertifikasi calon tenaga kerja pertahun.
Mendengar penjelasan ini, Hanif kaget dan merasa aneh. "Untuk LSP yang mengurusi TKI satu tahun bisa mengeluarkan 300 ribu sertifikasi. Maka berarti 1 asesor menangani 1.000 calon TKI. Wah tepar itu Pak," ucap Hanif.
"Banyak kasus TKI itu dikembalikan ke negara asalnya oleh majikannya karena TKI tersebut unskilled. Lah ini apa yang dilakukan BNSP," tanya Hanif heran.
Darma yang mendengar pertanyaan Hanif hanya bisa menjawab seadanya dengan sedikit gugup.
"Ya ada beberapa negara di Asia seperti Malaysia, Singapura sudah menerima sertifikasi kami," jelas Darma.
Menurut Hanif, sertifikasi ini adalah palang pintu agar para TKI memiliki skill yang cakap dan cukup untuk bisa mengadu nasiB di luar negeri. Mereka harus benar-bener terlatih dan tersertifikasi dengan benar.
Mendengar ucapan Hanif ini, salah satu pegawai BNSP mengungkapkan bahwa 7 LSP yang memberikan sertifikasi bagi para TKI itu merupakan orang-orang dari PJTKI yang memiliki perusahaan sertifikasi.
"Loh bisa jeruk makan jeruk ini, karena LSP itu kan perusahaan (cari untung) yang nguji bapak saya, yang ngetes bapak saya, padahal kan enggak bisa gitu. Ini adalah palang pintu bagi TKI," ucap Hanif geram.
"Training, rekruit kok menguji sendiri, bisa banyak masalah ini. Ini yang namanya jeruk makan jeruk. Ini rawan penipuan dan malpraktik pemberian sertifikasi kepada calon tenaga kerja," tambah Hanif.
Hingga pukul 14.00 WIB, sidak masih berlangsung.
(slm/nrl)











































