"Kami memang mendukung dan mengapresiasi pembubaran geng sekolah. Ini langkah tepat karena berdasarkan data dan frekuensi kejadian dari tawuran di Jakarta, menurut saya, memang sudah dalam tahap darurat," kata Sekjen FSGI Retno Listyarti kepada detikcom, Sabtu (22/11/2014).
Menurut Retno, aksi gangster yang dilakukan sekelompok pelajar diwarna pula oleh bullying, merokok dan tindakan yang menggangu ketertiban dan keamanan lingkungan. Ia juga mengatakan tindakan gangster itu mengarah pada aksi bullying secara finansial.
"Bullying di kelas pun terjadi, tidak lagi hanya fisik dan verbal tapi juga secara finansial. Jadi sudah demikian parah," kata Retno.
Wanita yang pernah menjadi guru di SMA 13 Jakarta itu menambahkan, pembubaran geng pelajar di sekolah harus dilakukan. Walau ada kemungkinan geng-geng itu tetap 'beraktivitas', seluruh elemen dunia pendidikan tak boleh berhenti memberangusnya.
"Di banyak sekolah muncul geng-geng seperti ini dimulai dengan anak-anak yang kumpul-kumpul sepulang sekolah di warung atau jalanan, lalu mulai kenal rokok, kemudian minuman keras dan kemungkinan lama-lama ke narkoba. Berkumpul di jalan itu juga bisa memicu tawuran," ucap Retno.
(vid/iqb)











































