Adrian Waworuntu 'Danai' Penyidikan Kasus Pembobolan BNI

Adrian Waworuntu 'Danai' Penyidikan Kasus Pembobolan BNI

- detikNews
Selasa, 18 Jan 2005 18:55 WIB
Jakarta - Adrian Waworuntu 'mendanai' penyidikan kasus pembobolan BNI. 'Pendanaan' ini berupa mengirimkan sejumlah fasilitas yang dimaksudkan untuk mempercepat penyidikan. Fasilitas itu, aku Adrian, statusnya adalah pinjaman. Pinjaman itu seperti projector infocus, kipas angin dan TV untuk dipakai kepentingan tahanan, mesin fotokopi, laptop, dan 2 printer. Adrian menyatakan hal itu saat menjadi saksi sidang komisi kode etik dan profesi di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Selasa (18/1/2005). Duduk sebagai terperiksa adalah Brigjen Samuel Ismoko.Menurut Adrian, pengiriman fasilitas itu dilakukannya karena melihat minimnya fasilitas yang dimiliki penyidik Mabes Polri. Adrian mencontohkan, printer penyidik hanya ada satu. Padahal ada 8 tersangka dari Grup Gramarindo yang terjera. Belum kalau harus memfotokopi berkas pemeriksaan harus keluar dari ruangan.Jadi, kata Adrian, barang-barang tersebut dipinjamkan olehnya untuk memperlancar dan mempercepat proses pemberkasan. "Alasan peminjaman karena untuk mempercepat penyidikan dan saya tak mau lama-lama ditahan," kata pria yang sempat kabur ke luar negeri sebelum diadili ini.Adrian mengaku sebagian barang sudah dikembalikan oleh penyidik seperti laptop, projector dan mesin fotokopi. Semua barang itu sudah ada di kantornya. Sedangkan barang klainnya seperti TV dan kipas angin masih berada di ruang tahanannya. 20 Ribu DolarAdrian juga membantah telah memberikan uang perjalanan dinas 20 ribu dolar AS untuk Brigjen Ismoko. Dia mengaku meminjam kepada Rudy Sutopo sebanyak 20 ribu dolar AS. Pinjaman itu pun setelah ditawari oleh Rudy."Saya diberi pinjaman. Rudy menawarkan itu sebagai pinjaman untuk urusan kantor. Rudy bilang, kalau perlu uang, bilang saja, Jadi tidak benar uang itu untuk Pak Ismoko," tandas Adrian.Adrian juga mengaku sekitar 37 hari menginap di ruang tamu penyidik di lantai 2 Bareskrim. Di ruang tamu itu memang tidak ada kamar tidur. Kalau malam, barang-barang seperti meja kursi dipindahkan, baru kasur gulung digelar di tempat tersebut. Setelah Natal 2003, dia kembali ke sel di lantai bawah. Tentu sel dengan fasilitas wah. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads