Eva menuangkan pengalaman mengesankan itu dalam sebuah buku berjudul I Am a Tiger Mom yang diluncurkan di Washington DC beberapa waktu lalu. Meski judulnya dalam bahasa Inggris, namun isi buku tersebut sepenuhnya ditulis dalam bahasa Indonesia dan didistribusikan di Indonesia.
“Buku itu bercerita tentang pengalaman saya sebagai ibu dari empat anak dengan single income di Amerika,” kata Eva dalam perbincangan dengan detikcom di Washington DC, AS, Rabu (19/11/2014).
Eva dan keluarganya hijrah ke Amerika pada tahun 2010. Saat itu keempat anaknya masih kecil. Tiga dari mereka adalah kembar berusia empat tahun, sementara yang bungsu baru umur 2 tahun. Adaptasi menjadi persoalan tersendiri bagi mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antara pengalaman paling berkesan yang Eva ceritakan adalah bagaimana bersiasat untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara cerdas. Sebagai keluarga dengan hanya satu orang tua yang bekerja tetap, Eva harus memanfaatkan support system yang disediakan pemerintah setempat, antara lain berupa makan siang gratis untuk anak-anak dan diskon untuk kegiatan-kegiatan anak.
“Kalau di Indonesia support system paling kuat kan dari keluarga. Kalau ada apa-apa keluarga besar membantu. Kalau di sini kita harus mandiri. Apalagi saya tidak punya keluarga kecuali keluarga inti. Jadi saya harus pintar-pintar menyiasati. Kuncinya jangan gengsi,” tutur jurnalis VOA ini.
Pengalaman lain yang tidak bisa dia lupakan adalah saat menemani anaknya dalam lockdown drill di sekolah. Lockdown drill adalah simulasi situasi emergensi ketika terjadi insiden penembakan massal. Anak-anak di sekolah dilatih menghadapi situasi ketika ada penembak yang masuk ke sekolah dan menembak secara membabi-buta. Simulasi itu belum lama digalakkan terkait dengan kerapnya terjadi penembakan massal di Amerika.
“Itu adalah pengalaman yang menimbulkan efek psikologis. Saya jadi berpikir mengenai keamanan anak-anak di sekolah. Dengan simulasi itu, saya yakin jika memang ada penembak yang sudah menargetkan satu kelas, anak-anak itu tidak bisa selamat,” tutur Eva.
Pengalaman lain adalah dalam hal mengajarkan agama kepada anak-anak. Eva harus menjelaskan konsep dalam agama yang dia percayai kepada anak-anaknya karena mereka mempelajari hal yang berbeda di sekolah. Misalnya, dia mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa manusia pertama adalah nabi Adam, sementara di sekolah mereka belajar bahwa manusia pertama adalah manusia goa.
“Anak saya bilang, ‘Mama bohong, manusia pertama bukan Adam tetapi manusia goa.’ Mereka juga bertanya minta bukti kalau Tuhan itu ada,” tutur Eva.
Buku itu ditulis dengan gaya bahasa mengalir dan enak dibaca, tak ubahnya sebuah novel yang berkisah tentang keseharian seorang ibu. Sebagai seorang jurnalis, Eva menunjukkan kepiawaiannya bertutur lewat aksara.
“Saya menulisnya selama enam bulan. Karena siangnya kerja, jadi saya menulis malam hari setelah pulang kantor. Kebetulan saya terbiasa melek malam karena komunikasi dengan teman-teman di Jakarta sering dilakukan malam hari,” kata Eva.
(mpr/mpr)











































