PNS Temanggung Curahkan Uneg-Uneg Sambil Menangis

PNS Temanggung Curahkan Uneg-Uneg Sambil Menangis

- detikNews
Selasa, 18 Jan 2005 16:42 WIB
Magelang - Banyak di antara para pegawai negeri sipil (PNS) di Pemerintahan Kabupaten Temanggung yang mengundurkan diri menangis saat mencurahkan semua uneg-unegnya kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah H. Ali Mufiz. Pertemuan tertutup yang berlangsung selama tiga jam mulai pukul 10.15-13.15 WIB itu digelar di kantor Bakorlin II Jateng, Jl. Diponegoro, Kota Magelang, Selasa (18/1/2005). Sekitar 70 pejabat Temanggung yang menyatakan mundur menghadiri pertemuan itu. Sementara itu, Bupati Totok Ary Prabowo yang sudah menyatakan akan hadir, tidak tampak sampai pertemuan usai. "Ini adalah pertemuan mediasi yang dilakukan pemprov Jateng antara pejabat yang mundur dengan bupati, tapi bupati tidak datang," kata Ali Mufiz kepada wartawan seusai pertemuan.Menurut Mufiz, pertemuan yang menjadi forum menyampaikan uneg-uneg para PNS di Temanggung itu bertujuan untuk menjamin agar pelayanan publik tetap jalan. "Cukup banyak yang mundur. Coba bayangkan kalau 110 PNS yang mundur itu tidak bekerja, kan bisa tidak jalan," katanya.Mufiz mengatakan, pertemuan siang itu sangat terbuka. PNS yang hadir, hampir semuanya menyampaikan uneg-unegnya. Mereka berbicara apa adanya di hadapan wagub dengan enaknya. Bahkan, ada beberapa PNS terutama wanita yang menangis karena berkali-kali terkena mutasi jabatan tanpa ada kejelasan."Ungkapannya memang macam-macam. Tapi semua yang hadir pertemuan ini tetap pada tuntutannya untuk menuntut mundur bupati," kata dia. Menurut dia, masalah utama di Temanggung berdasarkan masukan pada pertemuan tersebut berkisar masalah kebijakan yang diambil bupati, seperti kasus relokasi pasar, proyek pengadaan pisang cavendes, perakitan sepeda motor Sanex dan pembangunan plaza tower yang semuanya gagal dan belum ada kejelasan.Bagi pemerintah Provinsi Jateng, kata dia, pertemuan ini sangat bermanfaat, karena mendapatkan banyak informasi berkaitan dengan masalah yang ada di Temanggung. "Meski mereka menyatakan mengundurkan diri, mereka menjamin pelayanan umum tetap jalan," ujarnya.Sementara itu Sekda Setya Adji yang turut hadir dalam pertemuan itu menambahkan dirinya membantah pernyataan bupati bahwa dirinya mundur karena mendapat tekanan pihak lain. "Saya mundur karena tidak tahan dan menyuarakan kebenaran, karena selama 1,5 tahun ini kami merasa ada ketidakbenaran," kata dia. Setya mengatakan, dirinya secara psikis tertekan sekali hingga kemudian jatuh sakit. Hal itu akibat ada beberapa kebijakan yang seharusnya tidak dilakukan, tapi harus dilakukan atas perintah bupati. "Itu yang membuat kami tertekan," imbuh Setya. (asy/)


Berita Terkait