Akan Cicil Tagihan
Hapsah: Saya Tidak Disandera
Selasa, 18 Jan 2005 15:58 WIB
Makassar - Ny. Hapsah, ibu muda yang bersalin di klinik BKIA Restu Bunda, Makassar boleh bernapas lega. Pihak klinik memperbolehkan membayar tagihannya dengan cara mencicil. Hapsah juga membantah dirinya disandera di klinik. Hal ini disampaikan Hapsah saat ditemui detikcom di klinik BKIA Restu Bunda, di sebuah gang di Jl. Gatot Subroto, Makassar, Selasa (18/1/2005). Saat ditemui, kondisi Hapsah tampak sudah membaik. Tidak ada raut muka kesedihan, meski terlihat seperti terbebani dengan uang tagihan klinik. Hapsah membantah dirinya disandera, karena tidak bisa membayar uang tagihan biayah persalinan dan operasi cesar. Bahkan, menurut dia, dirinya diperlakukan secara baik di klinik sederhana itu. Biaya yang harus dia bayar, juga bukan Rp 6,5 juta, tetap hanya Rp 5,5 juta. "Saya tidak disandera. Saya memang tetap di sini, karena tidak enak Bidan Yuli dan Bidan Nunuk. Saya mau keluar, kalau sudah ada yang saya bayarkan, atau mereka sudah pegang uangnya. Bidan Yuli dan Bidan Nunuk baik pada sata. Mereka malah merawat saya dengan baik," kata Hapsah. Menurut dia, para bidan di klinik ini sudah mengetahui bahwa dirinya miskin. Karena itu, pihak klinik memperbolehkan dirinya pulang dan membayar tagihan dengan cara mencicil. "Mereka melihat saya sebagai orang miskin. Mereka sudah menyuruh saya keluar. Dan biayanya yang kurang, saya boleh bayar cicil," ungkapnya. Keluar Klinik Sore Ini Rencananya, Hapsah akan keluar dari klinik sekitar pukul 17.00 WITA sore ini. "Saya menunggu suami saya dulu. Rencananya, saya akan pulang sore ini," jelasnya. Mengenai uang yang dimilikinya, Hapsah mengaku, suaminya sudah mendapatkan bantuan dari banyak orang Rp 3 juta. "Saya akan bayar Rp 3 juta dulu, lalu lebihnya nanti saya bayar sedikit-sedikit. Ongkos seluruhnya Rp 5,5 juta, bukan Rp 6,5 juta. Bahkan biaya perawatan saya digratiskan. Perawatan dari Bu Yuli dan Bidan Ninuk sebenarnya tidak sebanding uang Rp 5,5 juta itu," ungkapnya. Hapsah mengaku senang banyak pihak yang mau membantu meringan beban dirinya. "Saya memang tidak ada uang. Seandainya saya punya uang, tidak mungkin saya kuburkan anak saya di halaman rumah," jelas ibu muda yang saat itu didampingi ibu tirinya. Sementara salah seorang bidan di klinik ini, Bidan Rahmat, menyatakan pihaknya memperlakukan Hapsah dengan baik. "Kami memperlakukan dia dengan baik. Kami tidak pernah memaksa untuk bayar. Bahkan, Ibu Yuli mengerti bahwa dia orang miskin," kata dia.
(asy/)











































