Tagihan Hapsah di Klinik Bertambah Jadi Rp 6,5 Juta
Selasa, 18 Jan 2005 09:57 WIB
Makassar - Seorang ibu muda, Hapsah (29), masih belum bisa keluar dari Klinik BKIA Restu Banda, Makassar. Dia belum bisa melunasi biaya persalinannya. Karena dia 'tersandera', kini biaya tagihannya membengkak menjadi Rp 6,5 juta. Setidaknya, sampai hari ini, sudah 16 hari Hapsah berada di klinik sederhana yang terletak di Jl. Gatot Subroto, Makassar itu. Pihak klinik tidak membolehkan Hapsah keluar dari klinik, karena jelas tidak mau rugi. Pihak klinik sebelumnya telah menalangi terlebih dulu biaya operasi cesar Hapsah. Persalinan Hapsah terjadi pada awal Januari lalu. Karena sesuatu hal, bayi di dalam rahimnya meninggal dunia. Karena itulah, bayi itu harus dikeluarkan melalui operasi di RS Pelamonia, Makassar. Karena tidak ada uang, biaya operasi Hapsah ditalangi oleh klinik. Setelah operasi, Hapsah dihadapkan pada tagihan biaya persalinan itu. Dua hari lalu, tagihan yang harus dibayarkan dia mencapai Rp 6 juta. Dan saat ini, menurut tetangga Hapsah, Ida, Selasa (18/1/2005), jumlah tagihan yang harus dibayar Hapsah Rp 6,5 juta. Terhadap tagihan ini, Hapsah hanya bisa pasrah. Suaminya, Maspion, yang berprofesi sebagai tukang ojek, masih terus berusaha mendapatkan uang itu. Tapi, penghasilan tukang ojek yang kecil, membuat Maspion tidak bisa mendapatkan uang itu dalam waktu cepat. Sementara, jumlah tagihan klinik terus bertambah, karena Hapsah masih berada di klinik. Keluarga Hapsah telah mencari surat keterangan miskin ke kelurahan. Namun, surat keterangan miskin itu tidak bisa diterima klinik. Sampai sekarang, belum ada orang-orang berpunya, pejabat, LSM, atau lembaga pemerintah yang menaruh perhatian pada nasib Hapsah ini. Bantuan dari masyarakat sebenarnya sudah ada, namun terlalu kecil. Menurut Ida, ada warga yang sudah membantu, tapi hanya Rp 25.000.
(asy/)











































