Deplu Bantah Gagal Diplomasi
Senin, 17 Jan 2005 22:02 WIB
Jakarta - Departemen Luar Negeri (Deplu) membantah telah gagal melakukan diplomasi, khususnya mengenai moratorium utang. Indonesia justru mendapat sejumlah bantuan lain di luar moratorium utang. Demikian dikatakan Menlu Hassan Wirajuda kepada wartawan dalam konpers di Deplu, Jl. Pejambon Jakpus, Senin (17/1/2005). Pernyataan itu menanggapi pemberitaan media massa yang memberitakan pemerintah telah gagal melakukan diplomasi ekonomi pasca bencana gempa dan tsunami di NAD dan Sumut. "Hasil dari kunjungan yang saya pimpin menunjukkan negara Eropa ada simpati, baik belasungkawa maupun tindakan nyata membantu negara yang kena musibah, khususnya Indonesia. Dalam rangka itu pemerintah telah melakukan diplomasi kemanusiaan yang berhasil dengan baik dari negara-negara donor, baik berupa hibah maupun pinjaman lunak," ujarnya. Dikatakan Hassan, delegasi yang dipimpinnya beranggotakan di antaranya Staf Khusus Menkeu Janes Hutagalung yang ahli dalam penanganan masalah utang serta Deputi I Bidang Kerja Sama Ekonomi Luar Negeri Menko Perekonomian Mahendra Siregar. Delegasi RI itu telah mengunjungi Inggris, Prancis, Jerman dan Italia, 10-14 Januari 2005 lalu. Pertemuan Paris Club sendiri berlangsung 12 Januari 2005. Namun, sidang Paris Club hanya dihadiri 19 negara anggota dan tidak dihadiri negara-negara peminjam. Menurut Hassan, hingga kini Paris Club belum memutuskan berapa besar moratorium utang yang diberikan kepada Indonesia. "Apakah moratorium itu untuk satu tahun ini atau lebih sampai 2006. Itu sesuatu yang tidak bisa dispekulasikan sekarang," jelasnya. Ia menambahkan, sejumlah negara juga memberikan debt SWAP dan debt relief kepada Indonesia. Contohnya Jerman yang akan mengurangi utang Indonesia 2 kali dari dana yang dikeluarkan untuk pembangunan. Sementara Italia berjanji memberikan 30 juta euro dalam bentuk debt SWAP dan 30 juta euro lagi untuk 2006. Bantah Teror Hassan membantah isu adanya teror terhadap relawan asing di Aceh. "Saya sudah dengar rumor itu. Isu teror terhadap relawan asing di Aceh hanya rumor, tapi sangat tidak logis jika teror dilakukan pihak kita karena kita yang memfasilitasi mereka untuk membantu kita menanggulangi bencana," paparnya. Ia mencontohkan, pemberian visa on arrival kepada relawan asing. "Jadi rumor itu nonsens kecuali bagi mereka, dalam hal ini GAM yang melakukan teror yang hanya demi mencegah proses rekonsiliasi yang kita bangun," demikian Hassan.
(rif/)











































