Panigoro dkk Rilis Struktur Partai, Mega Tak Jadi Ketum

Panigoro dkk Rilis Struktur Partai, Mega Tak Jadi Ketum

- detikNews
Senin, 17 Jan 2005 17:25 WIB
Jakarta - Gerakan Pembaruan PDIP meluncurkan buku berjudul "Membangun PDIP Sebagai Partai Rakyat yang Modern". Dalam buku ditulis mengenai struktur organisai baru dan tidak memasukkan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum lagi.Peluncuran buku diselenggarakan di Hotel Sahid, Jl Sudirman, Jakarta, Senin (17/1/2005). Buku disusun 13 penulis di antaranya Arifin Panigoro, Didi Supriyanto, Noviantika Nasution, Roy BB Janis, Sophan Sophiaan. Buku warna merah dan terdiri dari 35 halaman bercerita tentang perjalanan PDIP. Yang menarik dari buku itu, tepat di halaman 27, dicantumkan sejumlah nama calon yang akan duduk di struktur PDIP Baru.Dalam daftar calon dewan penasihat, nama Megawati Soekarnoputri nongkrong di urutan pertama. Kemudian Taufiq Kiemas, Sabam Sirait, Yahya Nasution, Soetardjo Soerjogoeritno, Arifin Panigoro, Kwik Kian Gie, Sutjipto dan lainnya.Posisi ketua umum ada 6 calon di antaranya Guruh Soekarnoputra, Sophan Sophiaan, Roy BB Janis, Kwik Kian Gie, Arifin Panigoro dan Laksamana Sukardi.Selanjutnya posisi ketua, bendaraha umum, wakil bendahara, koordinator wilayah ketua departemen atau ketua lembaga.Struktur ini berbeda dengan struktur yang lama yaitu ketua umum sejajar dengan dewan pertimbangan pusat dan majelis pimpinan pusat.Setelah itu sekjen, ketua, dan di bawahnya departemen.Tokoh PDIP Mochtar Buchori menilai, syarat untuk menjadi partai modern PDIP harus meninggalkan orientasi lama yaitu melepaskan orientasi figur personal kepada orientasi kemasyarakatan. "Selama ini, PDIP telah mengklaim partai yang berorientasi kepada masyarakat. Namun pada saat ada rakyat yang digusur PDIP tidak bersuara. Karena itu, kedekatan PDIP dengan rakyat berkurang. Itulah kenapa PDIP kehilangansebagian suaranya," ujar dia.Arifin Panigoro menambahkan kenyataannya PDIP telah kalah dengan Partai Golkar. Untuk itu, yang terpenting saat ini harus diganti kepengurusan PDIP yang baru termasuk AD/ART yang harus disempurnakan.Laksamana Sukardi mengatakan PDIP harus mengoreksi diri setelah mengalami kekalahan. "Kami tidak bersifat personal kepada Ibu Mega dan kawan-kawan tetapi kita harus membangun PDIP yang lebih baik. Kalau kita mengalami kegagalan, artinya kita harus koreksi diri," kata Laksamana."Sebagai intelektual, kita melihat kenapa kita kalah karena ada tsunami destruktif dalam partai. Kita punya dua pilihan membiarkan sistem lama atau menciptakan harapan baru. Jadi harus ada regenerasi di PDIP dan harus ada rekonsiliasi," imbuhnya. (aan/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads