"Fia sempat gemetaran tangan dan kakinya. Dia bilang rasanya seperti saat tangannya kesetrum kena colokan kipas angin," kata Evelin di rumahnya, Jl Haji Pekir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (11/11/2014).
Kedua pergelangan tangan Fia tampak luka karena tersengat aliran listrik tersebut. Saat itulah Evelin baru menyadari bahwa Amanda tewas, juga karena tersengat arus listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin karena fisik Manda lebih lemah. Dia punya asma," ucap Evelin sambil terus terisak.
Tubuh Amanda membiru di bagian muka, dada dan punggung. Evelin sangat terpukul atas peristiwa ini. Rencana jalan-jalannya bersama keluarga justru berakhir pilu.
"Anak saya hilang," katanya terbata-bata.
Ibu 3 anak tersebut ingin menuntut pertanggungjawaban pihak STC. Namun Evelin tak yakin dapat menuntut STC karena ia tidak mengizinkan anak sulungnya tersebut diautopsi. Sedangkan untuk menuntut STC, pihaknya harus mengizinkan Amanda divisum dalam.
"Saya cuma ingin STC tahu bahwa mal-nya berbahaya. Saya tidak ingin ada orang tua lain yang mengalami nasib seperti saya. Mau senang-senang malah jadinya sedih berkepanjangan," ujar Evelin yang masih terus menangis ini.
"Ini anak saya keduanya kesetrum. Gimana kalau keduanya diambil nyawanya? Belum lagi, kalau ada orang-orang lain yang juga menyentuh pagar itu. STC harus tanggung jawab," keluhnya.
(kff/mok)











































