Dalam aksinya, massa buruh yang berkostum "merah-merah" ini menggelar mimbar bebas di depan ruang Ketua DPRD Makassar. Hendra orator pengunjuk rasa, menyebutkan kenaikan harga BBM bersubsidi akan semakin menyengsarakan kaum buruh dan masyarakat miskin.
Ini juga berpengaruh pada kenaikan-kenaikan harga sembilan bahan pokok dan ancaman adanya PHK massal yang disebabkan banyaknya perusahaan yang gulung tikar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai diterima tim penerima aspirasi dari DPRD Makassar, massa aksi buruh kemudian kembali ke homebase mereka masing-masing
Unjuk rasa juga dilakukan sekitar 20 mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM). Mereka menutup jalan di depan kampusnya, Jalan AP Pettarani.
Dalam aksinya, mahasiswa UNM menggelar "api-unggun" dengan membakar ban bekas dan berorasi di atas meja yang dipasang di tengah jalan. Akibat aksi ini, terjadi kemacetan dari arah utara menuju jalan Sultan Alauddin.
Menurut Korlap aksi Aliansi Mahasiswa Jurusan Olahraga UNM, Umming Lasinrang, aksi mereka terus berlanjut hingga pemerintahan Jokowi-JK menganulir rencana kebijakannya menaikkan harga BBM.
"Kami meminta pada rezim Jokowi-JK membatalkan rencananya menaikkan harga BBM, kami juga meminta pemerintah menasionalisasi migas," ujar Umming
Setelah aksi mereka berlangsung sekitar 1 jam, Dekan Fakultas Keolahragaan UNM, Arifuddin Usman dan pihak kepolisian membujuk para mahasiswa menghentikan aksinya dan membuka kembali jalan yang diblokir dengan ban bekas yang dibakar.
Tidak lama setelah bernegosiasi, para mahasiswa olahraga UNM pun kembali ke titik awal aksinya, di kampus UNM Banta-bantaeng.
(mna/fdn)











































